Sekilas Info

Bencana Alam

Gempa 7,5 M Ternyata Picu Tsunami 61 Sentimeter, Ini Kata Warga Alaska

Jalanan yang rusak usai diguncang gempa bumi di Anchorage, Alaska, 30 November 2018. Gempa pertama yang paling kuat berpusat di sekitar 12 kilometer di utara Anchorage. REUTERS/Jackson Martin

Suaraindo.id- Peringatan dini tsunami dikeluarkan pasca gempa magnitudo 7,5 mengguncang dekat Sand Point, Alaska, pada Senin sore 19 Oktober 2020, atau Selasa subuh waktu Indonesia. Pemodelan yang ada memprediksi ada dua gelombang tsunami yang datang, masing-masing terukur setinggi 1,3 meter, hingga sempat memicu gelombang evakuasi warga setempat.

Tapi, pemantauan di lapangan melaporkan sekitar 45,7 dan 61 sentimeter yang datang bersama gelombang pasang. National Weather Service Pacific Tsunami Warning Center (NWS PTWC) mengatakan peringatan dini tsunami yang diberikan kepada sebagian wilayah Alaska dan Hawai itu telah langsung dicabut pada Senin malamnya.

Scott Langley dari National Tsunami Warning Center menjelaskan peringatan dini berlaku untuk wilayah Alaska yang 'terpencil'. "Sedang untuk pantai Amerika dan Kanada lainnya di Pasifik, tidak ada ancaman tsunami," kata dia.

Episentrum gempa itu sendiri tercatat berada kurang dari 60 mil dari Sand Point, dekat Semenanjung Alaska di barat daya negara bagian Amerika Serikat itu. "Kami merasakannya cukup kuat kok," kata warga pekerja di sebuah klinik di Sand Point, Lorna Osterback, tentang gempa itu.

Osterback mengatakan warga di kotanya langsung mengungsi ke dataran tinggi hingga ancaman tsunami dipastikan tidak terjadi. Mereka menunggu selama sekitar 1,5 jam karena gempa 7,5 M sempat disusul dengan dua gempa lain berkekuatan 5,9 dan 5,8 Magnitudo. "Kami hidup di zona gempa. Saya besar di sini dan persistiwa seperti ini normal," kata Osterback lagi.

Jeanette Piniones Navales, warga Pulau Kodiak, mengungkap yang sama. Dia sempat membawa keluarganya ke dataran tinggi di Gunung Pillar untuk evakuasi setelah mendengar sirene peringatan dini tsunami berbunyi. "Itu adalah bunyi sirene keenam yang saya dengar sejak tinggal di kota ini 2014 lalu," katanya.

Paul Caruso, ahli geofisika di Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), juga mengatakan peristiwa gempa di wilayah itu bukan sesuatu yang aneh. Dia menerangkan, wilayah semenanjung itu tepat di atas zona subduksi Lempeng Benua Pasifik yang mendesak ke bawah Lempeng.

Sedangkan situs web Volcano Discovery melaporkan kalau lokasi gempa itu sama dengan gempa 7,8 M pada 22 Juli lalu. Pada kedua peristiwa gempa itu diyakini tak sampai menimbulkan kerusakan. "Terutama karena kepadatan penduduknya yang sangat rendah di wilayah itu."

Penulis: Teras
Editor: Heny

Baca Juga