Sekilas Info

Kesehatan

Dari Rezeki Tak Diduga Hingga Harapan Bagi Tenaga Medis

Dokter memberikan suntikan kepada sukarelawan dalam simulasi uji vaksin di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung, Kamis, 5 Agustus 2020. (Foto: VOA / Rio Tuasikal)

Untuk memastikan keamanan dan keampuhan vaksin COVID-19 yang dikembangkan berbagai perusahaan farmasi di dunia dan sebelum mendapat izin resmi dari regulator yang berwenang, uji klinis tahap tiga sekaligus terakhir vaksin tersebut perlu melibatkan responden dalam jumlah besar. Ribuan orang di berbagai negara menjadi sukarelawan yang berpartisipasi dalam uji tersebut.

Dua partisipan, masing-masing seorang di Bandung, Indonesia, dan seorang lagi di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, berbagi pengalaman mereka sebagai sukarelawan. Apa yang mereka harapkan seusai menjadi partisipan uji klinis ini?

Bermula dari SMS yang diterimanya, Herny Mulyani kemudian memutuskan untuk berpartisipasi dalam uji klinis tahap ketiga vaksin COVID-19. Perempuan yang berprofesi sebagai event manager di sebuah perusahaan berkedudukan di Abu Dhabi itu menduga departemen kesehatan setempat mengiriminya SMS tersebut berdasarkan data base rumah sakit yang pernah dikunjunginya.

SMS itu memberitahu tentang pelaksanaan uji vaksin tahap ketiga dan menyertakan tautan registrasi apabila ia berminat bergabung sebagai partisipan uji itu. Mengaku sebagai seorang risk taker, ia malah mengajak suaminya untuk bersama-sama mendaftarkan diri sebagai sukarelawan. Motivasinya?

"Aku nggak tahu bakal dapat benefit A B C D E. Yang terbersit dalam pikiran, aku ingin mendapatkan vaksin, ini saja," jelas Herny.

Setelah melalui proses pendaftaran hingga cek kesehatan yang berlangsung dalam satu hari saja, Herny dan suaminya dinyatakan diterima sebagai volunteer.

Lain lagi kisah Adil Maulana, penyiar radio Klite di Bandung. Awalnya ia ragu-ragu ketika diajak istrinya, yang lebih dulu mendapat informasi mengenai kesempatan menjadi sukarelawan dalam uji klinis vaksin COVID-19, untuk bersama-sama mendaftarkan diri. “Dia sudah tahu informasinya lebih dulu, kemudian saya diajak. Saya pikir-pikir, nggak ada salahnya juga,” jelas Adil.

Lucunya, lanjut Adil, setelah keduanya mendaftarkan diri, justru sang istri yang tidak dipanggil menjadi sukarelawan. “Ada juga dorongan buat saya, motivasi saya. Kalaupun ternyata saya betul menerima vaksinnya dan saya kuat, berarti (vaksin) Sinovac memang cocok untuk orang Asia, atau untuk anak Bandunglah istilahnya. Saya bisa memberi gambaran buat yang mungkin nanti divaksin, bahwa tidak akan ada masalah,” imbuhnya.

Kedua sukarelawan ini sama-sama mengikuti uji klinis untuk vaksin yang dibuat oleh perusahaan farmasi China. Di Abu Dhabi, Herny mengikuti uji klinis untuk vaksin buatan Sinopharm, sedangkan Adil untuk Sinovac. Meskipun demikian, keduanya tidak tahu apakah suntikan yang mereka terima adalah vaksin yang dikembangkan kedua perusahaan itu ataukah plasebo.Karena tidak tahu persis itulah, mereka tetap menjalankan protokol kesehatan yang dianjurkan, seperti menerapkan social distancing dan mengenakan masker.

“Kewajibannya sama, kita tetap harus melakukan protokol kesehatan, social distancing, tetap harus memakai masker. Tetap lho, nggak mentang-mentang karena saya volunteer, saya boleh berbuat apa-apa, nggak,” jelasnya.

Kondisi mereka dipantau setiap satu atau dua hari sekali, dan setiap periode tertentu mereka menjalani pemeriksaan kesehatan.

Apa saja yang mereka alami selama mendapat suntikan-suntikan itu?

Herny mengaku merasakan gejala yang biasa dialami sewaktu diimunisasi yang kemudian hilang sendiri dalam tiga hari kemudian tanpa minum obat.

Begitupun Adil yang sempat merasakan ada yang berbeda seusai suntikan dosis kedua, dibandingkan dengan pengalamannya setelah suntikan pertama.

“Ada nyeri otot, kemudian ada agak lemas. Tapi kebetulan keluhan-keluhan itu tidak lama, semua normal kembali. Kurang lebih hampir empat hari,” jelasnya.

Meskipun tidak ada pembatasan yang ia rasakan, setelah tes ke-dua itu Adil diharuskan untuk meminta izin dulu ke dokter apabila ia harus bepergian keluar kota. Ia juga harus melaporkan tujuan, berapa lama bepergian serta keluhan yang mungkin ia alami selama itu.

Bagi Herny, menjadi sukarelawan mendatangkan hal yang tidak diduga-duganya. Ia bebas bepergian di antara tujuh emirat yang tergabung dalam Uni Emirat Arab tanpa menjalani tes COVID wajib. Asal tahu saja, warga nonsukarelawan akan terkena denda yang banyak apabila tidak melakukan tes wajib itu setiap keluar masuk suatu negara.

"Bahkan kalau lewat darat dari Dubai, ada jalur khusus untuk volunteer, red mark, lurus jadi tidak usah mengantre, tinggal memperlihatkan aplikasi saya yang ada tulisan nama, data dan status saya sebagai volunteer. Alhamdulillah saya tidak pernah kesusahan untuk ikut tes-tes itu," tambah Herny.

Sejumlah alat kesehatan, serta voucher belanja di supermarket yang ia terima juga dianggapnya sebagai rezeki tidak terduga.

Serupa tapi tak sama bagi Adil. Meski tidak menerima kemudahan seperti sukarelawan di Abu Dhabi, Adil menerima uang saku sebagai pengganti ongkos transportasi sewaktu pemeriksaan kesehatan serta asuransi kesehatan selama menjadi sukarelawan.

Lantas setelah menjadi sukarelawan, apa yang mereka harapkan dari vaksin-vaksin yang diujicobakan di negara masing-masing?

Herny berharap vaksin produksi Sinopharm itu efektif. Ia telah mulai beraktivitas di luar rumah sejak Agustus lalu dan hingga kini ia bersyukur karena kondisi ia dan suaminya baik-baik saja. Selain itu, berdasarkan kabar yang ia terima, dari 31 ribu sukarelawan di Abu Dhabi dan Dubai di Uni Emirat Arab, hanya satu yang positif terjangkit virus corona.

Sementara itu, mengingat banyak di antara kasus meninggal adalah tenaga medis, Adil berharap apabila vaksin yang diujicobakan itu terbukti aman, maka, “Para tenaga medis dulu mungkin ya, yang didahulukan mendapatkan vaksinnya. Dan juga mungkin orang yang lebih tua.” [uh/ka/ab]

Penulis: VOA
Editor: Heny

Baca Juga