Obat-obatan Tradisional Laris Selama Pandemi

  • Bagikan
Tanaman obat dibanding obat modern (foto: courtesy).

Indonesia memiliki kekayaan alam melimpah dengan berbagai tanaman obat (herbal) yang berkualitas untuk penyembuhan. Maka sejak jaman dulu, nenek moyang kita memanfaatkan tanaman obat itu dan meramunya menjadi jamu. Sejak pandemi COVID-19 merebak Maret 2020, obat-obatan tradisional dari bahan tanaman obat itu semakin banyak diminati.

Menurut Gabungan Pengusaha (GP) Jamu Indonesia, berbagai penelitian modern membuktikan, tanaman yang merupakan bahan dasar ramuan jamu, bermanfaat bagi kesehatan.

Produk jamu

Sekretaris Bidang Penelitian, Pendidikan dan Saintifikasi jamu di DPP GP Jamu, Victor Sahat Siringoringo menjelaskan kepada VOA:

“Jamu penggunaannya berdasarkan pengalaman turun-temurun. Jumlahnya lebih dari 11.000 produk yang sudah terdaftar di Badan POM (Pengawasan Obat dan Makanan). Kelompok kedua yaitu Obat Herbal Terstandard (OHT) yang sudah dilakukan percobaan pada hewan untuk membuktikan khasiatnya. Tingkat tertinggi adalah vitofarmaka, setaraf dengan conventional medicine, sudah diteliti uji pada hewan dan uji klinisnya pada manusia untuk menguji khasiat dan keamanannya”.

Victor sedang melakukan uji klinis (foto: courtesy).
Victor sedang melakukan uji klinis (foto: courtesy).

Terbukti sekitar 45% dari 7.700 responden pengguna aplikasi Alodokter dari Kementrian Kesehatan RI, memilih menggunakan tanaman obat, meskipun obat-obatan tradisional dari bahan herbal itu tidak semuanya terdaftar resmi di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Empat puluh lima persen pengguna obat tradisional oleh penduduk Indonesia yang jumlahnya lebih dari 270 juta adalah angka yang tinggi. Pada masa pandemi ini, banyak anggapan bahwa COVID-19 sebagai penyakit pernafasan, bisa dicegah dengan meminum obat dari bahan herbal. Tak heran jika penjualan obat-obatan tradisional meningkat akhir-akhir ini.

Bahan utama jahe

Muljo Rahardjo, CEO Deltomed mengatakan kepada VOA, produk yang laris adalah obat-obat untuk masuk angin dan teh herbal.

“Penjualan kami meningkat 50% dari sebelumnya tahun 2019, lalu tahun 2020 ke 2021 dan 2022 cukup bagus”.

Muljo Rahardjo (kiri) di pabriknya (foto: courtesy).
Muljo Rahardjo (kiri) di pabriknya (foto: courtesy).

Perusahaan yang telah berkiprah selama 45 tahun dalam pembuatan obat-obatan tradisional itu mempunyai misi utama yaitu menggabungkan kekuatan kearifan lokal dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk mempersembahkan yang terbaik dari alam.

Setelah pandemi merebak, pasokan jahe, bahan utama obat tradisional menjadi berkurang karena kebutuhan yang meningkat, ujar Muljo Rahardjo.

“Jahe itu benar-benar agak sulit diperoleh, terutama jahe merah dan jahe emprit. Ada 3 jenis jahe, yaitu jahe merah, jahe gajah dan jahe emprit. Jahe merah dan jahe emprit biasanya dipakai untuk jamu. Kalau jahe gajah untuk bumbu dapur. Tingkat kemanjurannya diukur dengan kandungan minyak atsiri, bahan aktif jahe yang berkhasiat untuk anti peradangan dan melancarkan peredaran darah”.

Muljo Rahardjo dengan Claudius Oeggerli, pemasok mesin pengambil sari tanaman obat (foto: courtesy).
Muljo Rahardjo dengan Claudius Oeggerli, pemasok mesin pengambil sari tanaman obat (foto: courtesy).

Sampai ke luar negeri

Keyakinan orang Indonesia akan kemanjuran obat-obatan tradisional ini dibawa sampai ke luar negeri. Maka, bagi warga Indonesia yang tinggal di luar negeri, contohnya Amerika, mereka banyak membeli obat-obatan itu di toko-toko, baik melalui daring maupun toko Indonesia di AS.

Pemilik salah satu Indonesian Market di Maryland, Linda Campbell, justru mengetahui berbagai jenis obat-obatan tradisonal dan khasiatnya dari para pelanggannya.

“Pembelinya banyak, orang Indonesia ini percaya dengan minuman yang herbal-herbal khususnya yang dari Indonesia. Saya justru tahu manfaatnya dari para pembeli, jadi dia beli dari toko saya. Lalu saya sendiri mencoba dan saya juga merasakan ternyata banyak juga manfaatnya,” kata Linda.

Linda Campbell di tokonya dengan dagangannya, temulawak impor dari Indonesia (foto: courtesy).
Linda Campbell di tokonya dengan dagangannya, temulawak impor dari Indonesia (foto: courtesy).

Banyak orang Indonesia membuat atau menyeduh sendiri bahan-bahan dari tanaman obat ini untuk diminum. Namun bagi mereka yang sibuk atau tidak ingin repot, pasti lebih suka membeli dari yang sudah jadi di pasaran dan yang telah terdaftar di BPOM, seperti yang dialami oleh seorang pengguna minuman herbal, Ade Astuti:

“Saya suka dengan yang herbal-herbal, merasa lebih aman saja. Saking sukanya, kalau ada yang sakit seperti batuk, saya buat sendiri ramuannya. Tapi sekarang mending belilah, cari yang praktis,” tukasnya.

Victor sedang menjajagi prospek ekspor ke India (foto: courtesy).
Victor sedang menjajagi prospek ekspor ke India (foto: courtesy).

Victor Siringoringo dari GP Jamu menambahkan, “Yang penting di sini dari segi hiegenitas, kan kita tidak tahu bagaimana mereka membersihkan, merebusnya, kemudian menggunakan botol yang hiegienis atau tidak”.

Banyak orang Indonesia percaya, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghindari paparan virus corona adalah dengan menjaga kekebalan tubuh. Maka dengan meminum obat-obatan tradisional dari bahan tanaman obat itulah mereka merasa sehat dan terhindar dari penyakit. [ps/em]

  • Bagikan