Pemberdayaan Pemandu Wisata Religi dan Budaya Sunda di Sumedang

  • Bagikan
Makuta. Keindahan alam, daya tarik objek wisata dan peran pemandu wisata menentukan kesuksesan pariwisata religi dan budaya Indonesia, termasuk budaya Sunda yang menganut Islam di Sumedang. (Foto: Courtesy)

Keindahan alam, daya tarik objek wisata dan peran pemandu wisata menentukan kesuksesan pariwisata religi dan budaya Indonesia, termasuk budaya Sunda yang menganut Islam di Sumedang. Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Sumedang sebelum pandemi mencatat rata-rata terdapat 810 ribu orang yang mengunjungi Museum Prabu Geusan Ulun, situs-situs bersejarah, makam pahlawan nasional asal Aceh Cut Nyak Dien, sekaligus menikmati tradisi budaya Sunda.

Selain pandemi virus corona, destinasi wisata Jawa Barat itu menghadapi tantangan bagi pengembangan pengetahuan dan keterampilan para pemandu wisata, juru kunci dan juru situs.

“Tantangannya itu terutama untuk generasi muda, mungkin sama dengan di beberapa daerah lainnya, yang kurang tertarik dengan budayanya sendiri,” ujar pakar etnoarkeologi Dr. R. Cecep Eka Permana dari Universitas Indonesia.

Melalui kegiatan pengabdian masyarakat di Sumedang, dosen pengajar arkeologi prasejarah bersama sejumlah mahasiswa menilai perlunya modernisasi pemandu wisata melalui pelatihan berbagai ketrampilan, digitalisasi naskah peninggalan keraton dan standardisasi informasi termasuk kesejahteraan juru kunci dan situs-situs bersejarah.“Jadi bisa menghayati, kalau dia langsung berhubungan atau berhadapan dengan objeknya (wisata),” katanya.

Agung bersama beberapa rekan mahasiswa lainnya, menyewa mobil dari museum keraton selama setengah hari berwisata untuk mengunjungi situs-situs bersejarah, kompleks pemakaman dan rumah peninggalan Cut Nyak Dien dari Aceh yang menjadi tahanan Belanda.

Cecep Permana menguraikan Sumedang dijadikan puseur budaya Sunda berdasarkan Perda tahun 2020 bahwa “sekarang yang memiliki keraton di wilayah Sunda hanya di Sumedang.”

Upaya itu bertujuan agar keraton peninggalan Sumedang Larang tersebut dapat terus dipertahankan walau pusat pemerintahan atau keraton di Jawa Barat selalu berpindah, sebagaimana masyarakat Sunda yang selalu pindah berladang, papar ahli rock art yang pernah meneliti lukisan gua prasejarah di wilayah Sulawesi Selatan.

Kuncen. (Foto: Courtesy/Agung Fajarudin)
Kuncen. (Foto: Courtesy/Agung Fajarudin)

Walau berbeda dengan pusat kerajaan Jawa yang cenderung menetap di satu tempat, Cecep berpandangan wisata religi dan budaya Sumedang memiliki kesamaan dalam proses pengembangan wisata candi Borobudur yang memadukan langgam Hindu dan Budha.

Dari turun-temurun juga, bahkan sekarang Borobudur terus berkembang ketika orang sudah mengkajinya lebih jauh. Candi itu tidak berdiri sendiri. Orang itu diharapkan datang ke Borobudur tidak hanya menikmati bendanya si Borobudur (objek sebagai candi) tapi bagaimana lingkungannya,” ujarnya.

Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. (Foto: PT TWC)
Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. (Foto: PT TWC)

Agung bersama rekannya menilai kondisi wisata religi dan budaya Sunda belum menjamin kesejahteraan para pramuwisata sebagai pekerja lapangan dan penyokong industri wisata di Sumedang.

Sekitar tiga puluhan pemandu wisata yang berpartisipasi dalam focus discussion group mengungkapkan rata-rata 1-2 bus dengan kapasitas 30-60 orang biasanya berwisata setiap hari. Namun selama pandemi terkadang hanya dua mobil keluarga yang melakukan wisata religi dan budaya dalam seminggu. [mg/ka]

  • Bagikan