suaraindo.id — Nusa Tenggara Timur kembali meneguhkan posisinya sebagai salah satu provinsi paling rukun dan toleran di Indonesia. Hal ini ditegaskan dalam Expo Moderasi Beragama yang diselenggarakan Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang di Lippo Plaza Kupang, 21–23 November 2025.
Dalam sesi talkshow utama, Kepala Pusbangkom SDM Pendidikan dan Keagamaan Kemenag RI, Dr. Mastuki HS, M.Ag., menegaskan bahwa NTT telah menjadi contoh nyata dari praktik moderasi beragama yang terimplementasi kuat di level masyarakat.
“NTT adalah laboratorium moderasi beragama. Indonesia majemuk sekaligus religius—tantangan sekaligus potensi luar biasa yang harus terus dirawat,” tegasnya, menekankan komitmen Kementerian Agama dalam menjaga harmoni nasional.
Menurut Dr. Mastuki, moderasi beragama harus hadir dalam keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam sekitar.
“Spiritualitas pribadi tidak boleh berhenti pada batin. Iman harus melahirkan perubahan yang adil, damai, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Empat Narasumber Kupas Keberhasilan NTT dalam Merawat Kerukunan
Talkshow berikutnya menghadirkan empat tokoh penting yang memperkuat narasi bahwa NTT pantas menjadi role model nasional dalam hal toleransi dan harmoni sosial.
Dr. H. Saprillah, Kepala BLAM Makassar dan instruktur nasional moderasi beragama, menegaskan bahwa moderasi beragama adalah nilai autentik bangsa yang harus terus dirawat melalui pendekatan sosial dan budaya.
“Kunci kerukunan ada tiga: keterlibatan sosial, akar budaya lokal, dan kebijakan otoritas,” jelasnya.
Sementara itu, Ambrosius Kodo, S.Sos., M.M., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, menyebut NTT sebagai wajah Indonesia yang hangat dalam keberagaman.
“Di sini semua orang diterima. Mari kita jaga ketulusan dan hentikan saling curiga,” ajaknya.
Ia mengingatkan bahwa akar pemikiran Pancasila ditemukan Bung Karno di NTT, sebagai simbol inspirasi persatuan.
Dr. Ir. Semuel M. Littik, Wakil Ketua MPKW NTT, menekankan pentingnya pendidikan karakter toleransi sejak usia dini.
“Pengarusutamaan moderasi harus masuk ke sistem pendidikan,” tegasnya.
Sementara Yakobus Oktavianus, S.Sos., M.M., Kabid Bimas Kristen Kanwil Kemenag NTT, mengingatkan bahwa keberagaman adalah kekuatan bangsa.
“Kerukunanlah yang menjaga peradaban,” katanya.
Antusias masyarakat selama talkshow tampak tinggi, menunjukkan bahwa isu kerukunan menjadi perhatian serius warga NTT.
Kampus-Kampus Keagamaan Perkuat Moderasi Beragama
Pada sesi pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Negeri (PTKKN), para rektor memaparkan praktik baik dalam menciptakan ruang akademik yang inklusif dan toleran.
Rektor IAKN Kupang, Dr. I Made Suardana, M.Th., mengungkapkan bahwa kampusnya mengembangkan Rumah Moderasi Beragama, riset tematik, dan podcast edukatif sebagai ruang pembelajaran publik.
“Kami ingin IAKN Kupang menjadi kampus inklusif yang mendukung Asta Protas Menteri Agama RI,” ujarnya.
Rektor IAKN Toraja, Dr. Agustinus, M.Th., menambahkan bahwa pihaknya rutin melaksanakan kemah moderasi dan KKN lintas-iman sebagai praktik toleransi dalam kehidupan nyata.
Dari IAKN Tarutung, Melinda Siahaan, Ph.D., memaparkan pengembangan desa moderasi beragama sebagai laboratorium sosial mahasiswa.
Di sisi lain, IAKN Manado melalui Dr. Ir. Samuel W. L. Wanget, M.Th., memaparkan kolaborasi lintas kampus dan lintas agama dalam membangun “kampus moderasi beragama.”
Merawat Keberagaman untuk Dunia
Menutup acara, Dr. Mastuki menyampaikan harapan agar pengalaman Indonesia dalam menjaga kerukunan dapat menjadi inspirasi global.
“Pengalaman Indonesia dalam menjaga kerukunan harus dibagikan ke dunia,” ujarnya.
Expo Moderasi Beragama IAKN Kupang tahun ini tidak hanya menjadi ruang edukasi publik, tetapi juga bukti nyata bahwa toleransi bukan sekadar wacana—ia hidup dan tumbuh subur di NTT.











