Stok Pangan NTB Dipastikan Aman, DKP Gelar Gerakan Pangan Murah

  • Bagikan

SUARAINDO.ID ——– Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui Dinas Ketahanan Pangan menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di SMAN 1 Terara, Kabupaten Lombok Timur bertepatan dengan peringatan HUT yang ke-40.

‎Kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan komoditas pangan murah, tetapi juga dirangkaikan dengan edukasi “Stop Boros Pangan” kepada siswa dan masyarakat sekitar.

‎Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi NTB, Aidy Furqon, mengatakan gerakan ini bertujuan mendekatkan akses pangan murah sekaligus meningkatkan literasi pangan di lingkungan sekolah.

‎“Alhamdulillah ini adalah gerakan pangan murah dalam rangka mengedukasi masyarakat, baik civitas sekolah maupun masyarakat sekitar, yang dirangkaikan dengan ulang tahun SMAN 1 Terara yang ke-40,” ujarnya, Sabtu 22 Nopember 2025.

‎Sejumlah komoditas dijual dengan harga lebih rendah dari pasar, seperti beras, bawang, gula, serta bahan pangan lainnya.

‎Sejak pukul 07.30 WITA, masyarakat telah memadati lokasi GPM.

‎Menurut Aidy, antusiasme masyarakat cukup tinggi.

‎“Harga beras dijual Rp13.000 per kilogram. Untuk cabai, kalau di pasar Rp23.000 per kilogram, di sini kita jual Rp20.000. Pokoknya semua barang di GPM ini di bawah harga pasar,” jelasnya.

‎Beras yang dijual disuplai dari BUPM, dengan total ketersediaan mencapai 1 ton.

‎Selain transaksi pangan murah, Aidy menjelaskan kegiatan ini juga digabungkan dengan program edukasi penyelamatan pangan.

‎Gerakan pangan hari ini, dirangkai dengan program edukasi penyelamat pangan melalui program “Stop Boros Pangan”.

‎”Tadi sudah kita dilakukan bersama anak-anak dan para guru. Terima kasih kepada pihak sekolah yang mendukung kegiatan ini,” katanya.

‎Pada kesempatan tersebut, Aidy memastikan stok pangan utama di NTB berada pada kondisi aman dan mencukupi kebutuhan hingga akhir tahun 2025.

‎“Kita berpatokan pada 12 komoditas utama. Untuk beras, kebutuhan tahun 2025 sekitar 829 ton, sementara stok kita mencapai 1.200 ton. Jadi ada kelebihan sekitar 400 ton, belum termasuk panen berikutnya pada kuartal keempat,” ungkapnya.

‎“Syok kita selalu siap. Sejauh ini belum ada keluhan. Bahkan kondisi ini memacu produsen untuk menghasilkan yang terbaik agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” tambahnya.

‎Aidy menutup pernyataannya dengan memastikan, kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat melalui GPM akan terus diperkuat demi menjaga stabilitas pangan di NTB.

Penulis: nanangEditor: Redaksi
  • Bagikan