FKPT Kalbar Soroti Ancaman Radikalisme Digital, Pelajar Jadi Sasaran Utama

Suaraindo.id - Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Barat menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ancaman radikalisme dan terorisme, khususnya yang menyasar kalangan pelajar melalui pemanfaatan media sosial dan ruang digital.

Ketua FKPT Kalimantan Barat, Yusriadi, menyebut peristiwa bom di SMAN 72 Jakarta yang dilakukan oleh seorang pelajar sebagai peringatan keras bagi seluruh elemen masyarakat.

“Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi kita semua bahwa ancaman radikalisme dan terorisme itu nyata, dekat, dan dapat terjadi di mana saja ketika kewaspadaan melemah,” ujar Yusriadi dalam siaran pers akhir tahun, Rabu (31/12/2025).

Berdasarkan temuan Satgas Gabungan lintas kementerian dan lembaga, eskalasi ancaman terorisme sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Satgas yang melibatkan BNPT, BIN, BAIS TNI, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta BSSN mencatat sedikitnya 21.199 konten bermuatan terorisme beredar di ruang digital.

Selain itu, teridentifikasi 137 pelaku aktif yang menyalahgunakan ruang siber untuk aktivitas terorisme. Dari jumlah tersebut, 32 pelaku terpapar secara daring dan bergabung dengan jaringan teror, sementara 17 pelaku lainnya melakukan aktivitas terorisme digital tanpa keterlibatan langsung dengan jaringan.

Ancaman terhadap generasi muda juga tercermin dalam Rilis Akhir Tahun 2025 Polri yang disampaikan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (30/12/2025). Kepala Bareskrim Polri mengungkapkan 68 anak di 18 provinsi terpapar ideologi ekstrem kanan atau Neo-Nazi melalui grup daring bernama True Crime Community (TCC).

Yusriadi menegaskan, terdapat dua isu krusial yang harus menjadi fokus bersama, yakni pelajar dan media sosial. Menurutnya, pola radikalisasi saat ini bergerak semakin halus melalui algoritma, konten visual, serta jejaring daring yang secara sistematis menyasar usia sekolah.

“Kesadaran di kalangan pelajar harus diperkuat, ketahanan keluarga perlu dibangun sebagai benteng pertama, dan peran guru serta sekolah harus diperkuat sebagai ruang aman literasi kebangsaan dan literasi digital,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, pemuda, organisasi sipil, hingga media, untuk bergerak serempak dalam upaya pencegahan melalui kepedulian dan aksi nyata.

FKPT Kalimantan Barat mendorong Pemerintah Provinsi Kalbar agar bersikap serius dan menyadari bahwa radikalisme dan terorisme merupakan ancaman nyata dan berbahaya bagi masa depan daerah.

“Oleh karena itu, penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) Pencegahan Radikalisme dan Terorisme harus segera disiapkan. Masyarakat sipil diharapkan ikut mendorong, mengawal, dan membantu implementasi RAD agar efektif menjangkau pelajar, keluarga, dan ruang digital,” ujar Yusriadi.

Di akhir pernyataannya, FKPT mengajak seluruh pihak untuk tidak lengah. Pencegahan radikalisme dan terorisme, kata dia, hanya akan berhasil bila dimulai dari rumah, diperkuat di sekolah dan komunitas, serta didukung oleh kebijakan daerah yang berpihak pada keselamatan generasi muda.

“Jangan sampai peristiwa seperti di SMAN 72 Jakarta terjadi di Kalimantan Barat,” pungkasnya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar

Postingan populer dari blog ini

100 Tahun Jam Gadang Jadi Momentum Perkuat Diplomasi Indonesia–Belanda

BPS Lombok Timur Ajak Masyarakat Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Grebeg Suro 2026 di Singkawang Digelar, Wako Tjhai Chui Mie Gaungkan Harmoni Budaya