Empat Tahun Tinggal di Rumah Miring, Lansia di Pemangkat Akhirnya Terima Bantuan Bedah Rumah

Suaraindo.id - Setelah hampir empat tahun bertahan di rumah kayu yang miring dan terancam roboh, Pak Terubus (79), warga Dusun Cempaka, Desa Penjajab Timur, Kecamatan Pemangkat, akhirnya dapat bernapas lega. Pada Senin (19/1/2026), rumah yang selama ini ia tempati resmi mendapat bantuan bedah rumah, setelah puluhan tahun luput dari perhatian program bantuan sosial.

Rumah kayu berusia belasan tahun milik Pak Terubus tersebut kondisinya semakin memprihatinkan sejak hampir empat tahun terakhir. Bangunan tampak miring dan rawan ambruk, sehingga sangat membahayakan keselamatan penghuninya. Padahal, rumah tersebut merupakan aset pribadi yang sah dan telah memiliki sertifikat kepemilikan.

Di rumah sederhana itulah Pak Terubus menjalani hari-harinya bersama Tuti, anggota keluarga yang mengidap epilepsi dan harus rutin mengonsumsi obat setiap bulan. Keterbatasan ekonomi membuat keluarga ini kesulitan untuk melakukan perbaikan rumah secara mandiri.

Ketua HWCI Sambas, Tiwi, mengungkapkan bahwa selama puluhan tahun tinggal di Desa Penjajab Timur, Pak Terubus belum pernah tersentuh bantuan sosial dari pemerintah, baik program kesejahteraan sosial, Program Keluarga Harapan (PKH), maupun kepesertaan BPJS Kesehatan gratis.

“Informasi ini kami peroleh dari anak beliau yang datang meminta pertolongan karena kondisi rumah orang tuanya sudah sangat memprihatinkan. Dari sisi ekonomi, keluarga ini juga tergolong sangat tidak mampu,” ujar Tiwi.

Menindaklanjuti laporan tersebut, HWCI Sambas bergerak cepat dengan melakukan koordinasi bersama berbagai pihak. Sejumlah elemen turut bergotong royong, di antaranya Benpoltesa HMI, Kohati, serta mendapat dukungan dari Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PerkimLH) serta Pemerintah Desa Penjajab Timur. Berkat sinergi tersebut, program bedah rumah bagi Pak Terubus akhirnya dapat direalisasikan.

Tiwi juga menyoroti lemahnya sistem pendataan di tingkat bawah yang menyebabkan kondisi Pak Terubus tidak terdeteksi selama bertahun-tahun. Menurutnya, hal ini harus menjadi bahan evaluasi bersama agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

“Pendataan di tingkat RT hingga desa harus benar-benar diperkuat, supaya warga lanjut usia dan masyarakat kurang mampu yang membutuhkan bantuan tidak lagi terlewat dari program pemerintah,” pungkasnya.

Ia berharap, langkah kolaboratif yang dilakukan dalam membantu Pak Terubus dapat menjadi contoh sinergi nyata antara masyarakat, organisasi sosial, dan pemerintah dalam menjawab persoalan kemanusiaan di daerah.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar

Postingan populer dari blog ini

100 Tahun Jam Gadang Jadi Momentum Perkuat Diplomasi Indonesia–Belanda

BPS Lombok Timur Ajak Masyarakat Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Grebeg Suro 2026 di Singkawang Digelar, Wako Tjhai Chui Mie Gaungkan Harmoni Budaya