Industri Porang Butuh 60 Ton Bahan Baku per Hari, Lombok Timur Perkuat Hulu Produksi

Editor: Hendrik Syahputra author photo
SUARAINDO.ID ------ Potensi komoditas porang di Kabupaten Lombok Timur dinilai sangat menjanjikan. ‎ ‎Namun, pengembangan sektor tersebut masih membutuhkan waktu, terutama pada sisi hulu atau ketersediaan kebun sebagai pemasok bahan baku untuk industri hilirisasi yang sudah siap beroperas. ‎ ‎Direktur PT SPR (Sanindo Pangan Rinjani) Kabupaten Lombok Timur Dian Rahadian mengatakan, saat ini, fasilitas pengolahan porang telah siap menyerap bahan baku dalam jumlah besar. ‎ Kebutuhan pabrik mencapai sekitar 60 ton umbi porang basah per hari. ‎ Jika dihitung dalam satu bulan, kebutuhan tersebut mencapai sekitar 1.800 ton, dan dalam masa panen enam bulan, jumlah bahan baku yang dibutuhkan bisa mencapai puluhan ribu ton. ‎Kondisi teraebut menjadi tantangan karena lahan kebun porang di Lombok Timur belum sepenuhnya terbangun untuk menopang kebutuhan industri tersebut. ‎ ‎Yang paling ideal itu membangun ekosistem. Kebunnya dibangun, tapi industri hilirisasinya juga harus siap. ‎ ‎"Sekarang hilirisasi sudah siap menyerap, tetapi hulunya yang masih perlu kita bangun bertahap dari tahun ke tahun,” ungka Dian, saat ditemui wartawan, Kamis 23 April 2026. ‎ ‎Dian menjelaskan, Porang memiliki masa tanam hingga panen sekitar enam bulan. ‎ Artinya, dalam kurun waktu tersebut, jika pasokan tersedia, seluruh hasil panen dapat langsung diserap dan diolah oleh pabrik. Siklus tanam berikutnya biasanya dimulai kembali sekitar bulan ke-10. ‎ ‎Dibandingkan dengan Kabupaten Lombok Utara (KLU), pengembangan porang di Lombok Timur masih relatif baru. ‎ Di KLU, budidaya porang telah dimulai sejak 2008 dan mendapatkan pendampingan intensif dari akademisi, salah satunya Prof. Suwardi. ‎ Sementara di Lombok Timur, pengembangan porang baru dimulai sekitar dua tahun terakhir. ‎ ‎Saat ini, Lombok Timur masih dalam tahap pemetaan lahan yang cocok untuk budidaya porang. ‎ Meski demikian, pasokan bahan baku mulai menunjukkan perkembangan. Tercatat sekitar 1.150 ton bahan baku telah masuk, dengan 750 ton di antaranya telah diserap oleh pabrik pengolahan. ‎ ‎Untuk memenuhi kebutuhan produksi, bahan baku tidak hanya didatangkan dari Lombok, tetapi juga dari luar daerah seperti NTT, Sumbawa, dan Sumba. ‎ Namun, pihak perusahaan menegaskan bahwa prioritas utama tetap pada penyerapan hasil panen petani Lombok Timur, agar perputaran ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. ‎ ‎Harga beli umbi porang basah di tingkat penerimaan pabrik saat ini berada di kisaran Rp10.510 per kilogram. ‎ ‎Pihak pengelola berharap ke depan seluruh rantai produksi, mulai dari kebun hingga pabrik, dapat terintegrasi di Lombok Timur. ‎ Dengan demikian, nilai tambah ekonomi dari komoditas porang dapat sepenuhnya dinikmati oleh daerah. ‎ ‎“Harapannya, semua ada di Lombok Timur. Pabriknya di sini, kebunnya juga di sini, sehingga ekonominya benar-benar berputar di daerah sendiri,” ujarnya. ‎ ‎Penguatan sektor hulu melalui perluasan lahan tanam porang dinilai menjadi kunci, agar industri hilirisasi yang sudah siap dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
Share:
Komentar

Berita Terkini