Perkuat Edukasi Tanggap Bencana di Sekolah, Libatkan Siswa dan Wali Murid
SUARAINDO.ID ------ Upaya penguatan kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan terus digencarkan di Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur.
Kepala UPTD Dikbud Kecamatan Sambelia, Saefuddin, S. Pd, menegaskan bahwa wilayahnya termasuk kawasan rawan bencana, sehingga edukasi tanggap darurat perlu ditanamkan sejak dini kepada peserta didik.
Menurut Saefuddin, pengalaman gempa bumi tahun 2018 yang berpusat di Sambelia, serta banjir yang terjadi baru-baru ini di Desa Obel-Obel menjadi pengingat pentingnya kesiapan seluruh elemen masyarakat, termasuk kalangan sekolah.
"Wilayah Sambelia ini sangat rentan. Kita pernah menjadi pusat gempa 2018, dan banjir juga terjadi bulan lalu di Obel-Obel. Karena itu, kesiapsiagaan bencana tidak bisa hanya dibebankan kepada orang dewasa, tetapi harus dimulai dari siswa,” ujarnya saat ditemui wartawan di SMPN 1 Sambelia, Selasa 19 Mei 2026.
Edukasi tanggap bencana tersebut telah dilaksanakan di SDN 1 Madayin, sekolah yang berada di ujung wilayah Kecamatan Sambelia.
Kegiatan tersebut terlaksana melalui kolaborasi UPTD Dikbud dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lombok Timur.
Dalam kegiatan tersebut, siswa, guru, dan wali murid dilibatkan langsung dalam simulasi serta sosialisasi penanganan darurat bencana.
Saefuddin menyebutkan, keterlibatan semua unsur ini penting agar pemahaman tanggap bencana tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi juga diterapkan di lingkungan keluarga.
“Kami ingin siswa sigap ketika bencana terjadi. Guru dan wali murid juga ikut serta, sehingga pemahaman ini menyeluruh,” katanya.
Program serupa, lanjutnya, tidak hanya dilakukan di satu sekolah. UPTD Dikbud Sambelia merencanakan perluasan sosialisasi ke seluruh satuan pendidikan mulai dari tingkat TK, SD hingga SMP di bawah naungan Dinas Dikbud Lombok Timur.
Saefuddin menegaskan, Empat desa yang masuk prioritas karena tergolong zona merah bencana, seperti Desa Madayin, Obel-Obel, Belanting, dan Dara Kunci.
Keempat desa tersebut dinilai rawan terhadap ancaman gempa bumi dan banjir.
Di Desa Madayin sendiri terdapat satu TK, satu SD, dan satu SMP. Sementara di Obel-Obel terdapat dua SD dan satu TK swasta. Desa Belanting dan Kunci juga memiliki sejumlah satuan pendidikan dari jenjang TK hingga SMP yang akan menjadi sasaran program.
Saefuddin berharap kolaborasi lintas instansi, khususnya dengan BPBD dan dinas terkait, dapat memperkuat upaya mitigasi bencana di sekolah.
“Harapan kami, dengan pembekalan sejak TK sampai SMP, anak-anak lebih siap dan sigap. Mudah-mudahan ini dapat meminimalkan risiko korban apabila bencana terjadi, meskipun tentu kita semua berharap bencana itu tidak datang,” pungkasnya.
Komentar
Posting Komentar