SUARAINDO.ID ——- Wakil Bupati Lombok Timur, Edwin Hadi Wijaya, mendorong penguatan kolaborasi pentahelik dalam pembangunan pendidikan, khususnya di tingkat kecamatan.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri kegiatan Gebyar Hari Guru Nasional yang digelar oleh PGRI Cabang Sambelia, Lombok Timur di Obyek wisata Pulau Lampu Gili Kondo, Sabtu 13 Desember 2025.
Edwin menjelaskan, kegiatan serupa juga pernah dihadiri tiga minggu sebelumnya di Kecamatan Lenek, namun dengan tema yang berbeda, yakni lingkungan.
Menurutnya, cabang PGRI memiliki kekhasan tersendiri dalam mengemas kegiatan, termasuk dalam menyemarakkan peringatan Hari Guru Nasional.
“Di Sambelia ini semarak kegiatannya luar biasa, banyak lomba yang digelar. Yang paling menarik, PGRI Cabang Sambelia mampu menggandeng pihak perusahaan untuk ikut berpartisipasi, bahkan sampai memberikan voucher umrah gratis,” ujar Wabup.
Wabup berharap, langkah tersebut dapat menjadi contoh nyata penerapan konsep pentahelik, yakni kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, media, dunia usaha, dan akademisi dalam mendukung kemajuan pendidikan.
Rumusan pentahelik ini memang harus dijalankan. Ada pemerintah, masyarakat, media, dan juga perusahaan.
Kolaborasi seperti inilah yang akan semakin merekatkan kerja sama dalam membangun pendidikan.
Selain menyoroti kolaborasi, Wabup menekankan pentingnya perlindungan hukum bagi guru.
Menurutnya, guru memiliki organisasi profesi seperti PGRI, serta tergabung dalam Korpri sebagai aparatur sipil negara (ASN).
Kedua lembaga tersebut diharapkan, dapat menjadi pendamping bagi guru apabila menghadapi persoalan hukum.
“Dua lembaga ini, kita harapkan kuat untuk mendampingi guru-guru ketika mereka tersandung masalah hukum,” katanya.
Lebih panjut Wabup menegaskan, Pemerintah daerah juga telah menyiapkan bale mediasi sebagai upaya perlindungan awal, agar permasalahan tidak langsung berujung ke ranah hukum.
Selain itu, bagi guru ASN yang menghadapi persoalan, pemerintah daerah dapat berkoordinasi dengan jaksa pengacara negara.
“Di situlah kita akan berkomunikasi dalam rangka melindungi guru-guru kita, termasuk yang berada di luar PGRI,” pungkasnya.













