Suaraindo.id—Jorge, bukan nama sebenarnya, warga Spanyol yang bekerja di Bali, marah sewaktu mendengar kabar bahwa menjalani vaksinasi COVID-19 akan menjadi kewajiban bagi siapa saja yang tinggal di Pulau Dewata itu, termasuk para ekspatriat.
“Saya akan meninggalkan Bali,” kata pria berusia 39 tahun yang sudah lama menjaga kesehatan fisik dan mentalnya melalui pendekatan holistik yang nyaris menabukan intervensi fasilitas kedokteran modern, termasuk vaksinasi. Ia sendiri sudah lebih dari lima tahun tinggal di Denpasar.
Christine, juga bukan nama sebenarnya, seorang ekspatriat asal sebuah negara di Eropa Timur, mengatakan, vaksinasi COVID-19 seharusnya bukan kewajiban, dan menggunakan masker tidak bermanfaat menurunkan laju penularan. Menurutnya, tingkat kesembuhan mereka yang tertular COVID-19 hampir 100 persen.
Perempuan 32 tahun yang baru beberapa tahun tinggal di Bali ini bahkan berani mengatakan bahwa para ekspatriat di Bali kebanyakan anti-vaksin dan anti-masker.
Tidak seperti Jorge dan Christine, Craig Wilson, seorang pelatih kebugaran asal Amerika, justru mendukung seruan vaksinasi dan pemakaian masker.
Pria berusia 49 tahun asal negara bagian Virginia, AS itu mengatakan, “Seharusnya mereka mematuhi peraturan yang diterapkan pemerintah setempat. Ini pandemi global. Jadi, patuhilah. ”
Wilson meminta orang-orang asing lainnya untuk mengenakan masker di tempat-tempat umum. Ia mengungkapkan, bahwa ia tidak menghargai orang-orang yang tidak mematuhi peraturan setempat.
Wilson mengatakan, “Kita adalah tamu di pulau ini dan di negara ini, paling tidak yang bisa kita lakukan adalah berusaha untuk tidak menyebarkan virus di antara orang Indonesia dan orang Bali yang menyambut kita dan membantu pekerjaan kita.”
Pernyataan serupa dilontarkan Kelli Swazey, Koordinator Keberagaman dan Inklusi Divisi Asia-Pasifik Fulbright. Mantan dosen Universitas Gajah Mada yang baru satu tahun tinggal di Bali ini mengatakan, “Kalau mereka tidak setuju, mereka harus ke luar dari Indonesia. Atau mereka harus berpikir kembali jika ingin tetap tinggal di Indonesia. Mereka harus ikut aturan dan protokol kesehatan.”
Lebih jauh, perempuan asal Amerika yang meraih gelar doktoral di bidang antropologi dari Universitas Hawaii, AS, ini mengatakan, keengganan orang-orang asing, terutama kulit putih karena adanya fenomena white privilege yang menjadi bagian dari warisan sejarah kolonialisme di Indonesia.
“Orang asing, khususnya yang berkulit putih, cenderung dijunjung atau diberi posisi lebih tinggi dari orang lokal. Jadi, sistemnya yang mendukung situasi di mana orang asing merasa tidak harus mengikuti aturan yang berlaku di sini. Orang-orang Bali enggan menegur atau mendorong orang asing untuk mengikuti protokol kesehatan karena mereka memang diajarkan untuk tidak mengganggu atau mengambil tindakan yang tidak menyenangkan orang asing,” jelasnya.
Selain itu, menurut Swazey, orang-orang Bali juga enggan menegur orang-orang asing karena khawatir bisnis mereka akan terimbas.
“Kalau aku bicara sama mereka, mereka biasanya mengatakan,’ya mereka (orang-orang asing, red) harus pakai masker, tapi aku sedikit minder, takut atau gugup kalau memberi tahu mereka seperti itu’. Dan ini juga berkaitan dengan bisnis mereka. Sekarang mereka tidak banyak memiliki klien dan turis, jadi mereka takut bila menegur akan merugikan bisnis mereka, Mereka takut kehilangan customer,” lanjut Swazey.













