Suaraindo.id – Terkait kasus kasus intoleransi, kebebasan beragama yang marak terjadi di Indonesia, mengingat wilayah Petamburan masuk katagori jalur merah menurut FKUB DKI dan Kapolda Metro Jaya. Tapi anehnya Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia selalu kondisi aman dan terkendali.
Pada dasarnya kebebasan memeluk agama atau kepercayaan adalah hak setiap warga negara. Sering kita dengar ada banyak penutupan gereja, dilarang beribadah, disini saya sampaikan, tidak semua daerah atau kota terjadi seperti itu, contohnya Kampus STTBI selalu aman Dan terkendali, kata Dr. Gernaida Kr. Pakpahan disela-sela acara Talk Show Kebhinekaan yang diadakan di Kampus STT Bethel Indonesia (STTBI), Petamburan, Jakarta Pusat, Sabtu (3/9/22).
“Disini kita harus bijak, ditengah-ditengah minoritas, kita harus bisa jadi betkat, contohnya, yakni kita bisa melakukan pendekatan, saling berbaur antar satu dengan yang lain, jangan ekslusif, mungkin kalau diterapkan seperti itu, saya rasa akan indah dan Kerukunan, toleransi akan terjadi,” ujar Gernaida yang merupakan Kaprodi Doktor Teologi STTBI.
Hal yang sama juga diungkapkan Kaprodi Magister Teologi Dr. Andreas Budi Setyobekti bahwa toleransi harus ada aplikasinya, seperti di Magister Teologi ada mata kuliah Spritual pentakosta, apa itu spritual pentakosta, spritual pentakosta adalah menghidupi nilai-nilai, dari pentakosta itu bukan hanya pengetahuannya tetapi juga aplikasinya, penerapannya di gereja dan di masyarakat, dan itu sudah kami buktikan disini.
“Salah satunya adalah pembumian sikap gotong royong dengan warga sekitar demikian halnya jika terjadi banjir, ataupun kegiatan-kegiatan yang sifanya keagamaan, STTB selalu hadir untuk berpartisipasi,” pungkasanya













