Suaraindo.id – Di tengah hiruk-pikuk Kota Bengkayang yang terus tumbuh dan berbenah, ada satu tempat sederhana yang sejak dua dekade lalu tak pernah kehilangan pesonanya: Warung Kopi Anugerah. Terletak di Jalan Uray Dahlan M Suka Nomor 86, Kelurahan Bumi Emas, warkop ini bukan sekadar tempat menikmati kopi, melainkan ruang hangat yang menyimpan kisah hidup, rasa, dan kehangatan keluarga.
Sosok di balik aroma khas kopi Anugerah adalah Kim Nyun atau akrab disapa Pak Anyun. Di usia senjanya yang ke-72, ia masih setia berdiri di balik meja racik, menyambut setiap pelanggan dengan senyum ramah dan tangan cekatan. Selama 22 tahun, Pak Anyun menyeduh bukan hanya kopi, tetapi juga kenangan bagi para pengunjung setianya.
“Kami kasih nama Anugerah karena saat pindah ke Bengkayang, kami baru dikaruniai anak pertama setelah lama menanti. Itu benar-benar anugerah bagi keluarga kami,” ujar Pak Anyun sembari mengaduk kopi hangat penuh cinta.Perjalanan membuka Warung Kopi Anugerah berawal dari luka sejarah: kerusuhan Mei 1998. Demi mencari ketenangan, keluarga Anyun memutuskan meninggalkan Jakarta. Pada Desember 2000, mereka menetap di Bengkayang dan memulai hidup baru dengan membuka usaha kecil yang kelak menjadi tempat persinggahan banyak hati.
Kopi yang disajikan bukan sembarang racikan. Pak Anyun menggiling sendiri biji kopi pilihan asal Jambi, yang disangrai dan diolah oleh Kopi Sumber Cahaya Cap Jangkar dari Singkawang. Hasilnya? Aroma pekat, rasa kuat, dan sensasi nostalgia dalam setiap tegukan.“Sehari bisa habis 2 kilo kopi. Satu kilo bisa jadi 60 gelas. Paling ramai ya pagi-pagi, sebelum orang berangkat kerja,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Menu andalan di Warkop Anugerah tentu saja kopi hitam. Namun, tak berhenti di sana. Roti bakar berbagai rasa, kue kering buatan sendiri, hingga bubuk kopi kemasan juga tersedia – mulai dari 1 ons seharga Rp10 ribu, hingga 1 kilogram seharga Rp90 ribu.
Tapi yang membuat tempat ini istimewa bukan hanya kopinya, melainkan suasana kekeluargaan yang tercipta secara alami. Pelanggan datang bukan hanya untuk ngopi, tapi juga untuk ngobrol santai, bertukar kabar, dan mengenang masa lalu.
“Pak Anyun itu seperti ayah bagi kami. Warkop ini rumah kedua. Kopinya enak, suasananya hangat,” ujar Agus, salah satu pelanggan tetap.
Di tengah perkembangan zaman dan munculnya kedai-kedai kopi modern, Warkop Anugerah tetap teguh berdiri. Ia menjadi bagian dari memori kolektif warga Bengkayang — tempat di mana cangkir kopi menyatukan cerita, tawa, bahkan air mata.
Warung sederhana ini adalah simbol ketulusan, ketekunan, dan cinta seorang ayah pada keluarganya — serta pada kopi yang tak pernah berhenti menghangatkan hari-hari banyak orang.
Di Warkop Anugerah, kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah cerita. Dan Pak Anyun, adalah penulisnya.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS













