SUARAINDO.ID —— Bupati Lombok Timur Haerul Warisin memaparkan strategi pengelolaan pertanian lahan kering, yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani.
Menurut Bupati, karakter wilayah utara dan selatan Lombok Timur memiliki perbedaan pola tanam yang signifikan.
Di wilayah utara, petani umumnya dapat menanam padi satu kali dengan mengandalkan air hujan. Untuk musim tanam berikutnya, petani memanfaatkan sumur bor agar bisa menanam komoditas lain seperti jagung, cabai, dan sayuran.
“Kalau di utara, setelah padi dengan air hujan, tanam kedua harus pakai sumur bor. Bisa jagung, cabai, atau sayuran,” ujarnya, saat menghadiri panen jagung bersama BAZNAS RI di Desa Gunung Malang, Kecamatan Pringgabaya, Kamis 23 April 2026.
Sementara itu, di wilayah selatan, petani mengembangkan sistem embung atau penampungan air hujan dalam jumlah besar.
Bupati menyebut terdapat ribuan embung yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat, khususnya di Kecamatan Jerowaru.
Sebagian lahan bahkan sengaja dikorbankan untuk menjadi tampungan air saat musim hujan.
Di selatan, petani tidak pakai sumur bor, tapi embung. Begitu hujan turun, embung terisi. Air tersebut dipakai untuk tanam berikutnya. Bahkan dimanfaatkan untuk budidaya ikan, dan warga bisa memancing berbayar di situ.
Pola tersebut dinilai efektif untuk mengatasi keterbatasan air di lahan kering sekaligus menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi petani melalui perikanan air tawar.
Bupati menyebutkan, sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian daerah dengan kontribusi sekitar 27 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lombok Timur.
Dengan jumlah penduduk sekitar 1,5 juta jiwa dan wilayah yang luas, sektor ini dinilai mampu menopang kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Sebagai bentuk perlindungan sosial bagi petani dan kelompok masyarakat produktif lainnya, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur menjamin kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan melalui skema pembiayaan daerah.
Tidak hanya petani, program tersebut juga mencakup guru honorer, guru ngaji, nelayan, dan kelompok rentan lainnya.
Menurut Bupati, langkah ini penting karena memberikan jaminan santunan kematian dan jaminan sosial kerja bagi masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki perlindungan.
“Kalau mereka tidak masuk BPJS Ketenagakerjaan, ketika terjadi musibah tidak ada santunan. Tapi kalau terdaftar, santunan yang diterima bisa mencapai ratusan juta rupiah sesuai ketentuan,” katanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, sektor pertanian di Lombok Timur relatif stabil tanpa gangguan besar dari hama, penyakit tanaman, maupun bencana alam.
Kondisi tersebut mendorong peningkatan produksi dan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi daerah.
Bupati berharap pola pengelolaan air, penguatan komunitas petani, serta perlindungan sosial melalui BPJS Ketenagakerjaan dapat terus dikembangkan guna memperkuat ketahanan pangan sekaligus kesejahteraan masyarakat Lombok Timur.
Haerul Warisin : Strategi Pertanian Lahan Kering dan Perlindungan Petani lewat BPJS Ketenagakerjaan













