Suaraindo.id – Dalam mengkaji langkah-langkah yang harus diambil dalam menjaga kebhinekaan bangsa dalam pluralitas, Sekolah Tinggi Teologia Bethel Indonesia (STTBI) gelar Talk Show dengan tema: Merajut Kebersamaan dalam Kebhinnekaan di Kampus STTBI Petamburan, Jakarta Pusat, Jumat (3/09/2022).
Acara talk show dibuka oleh Ketua STTBI Dr. Frans Pantan dan dipandu oleh Samuel Rosen, S.Th, Caesilia Destachris, S. Pd dengan narasumber Dr. Gernaida Kr. Pakpahan dan Yulius Aris Widiantoro, M. Hum dan diikuti para peserta mahasiswa pascasarjana secara daring.
Dr. Gernaida Kr. Pakpahan dalam paparannya mengungkapkan bahwa kebhinnekaan itu bicara keanekaragaman. Bicara Nusantara bicara kesatuan pulau (tanah) dan air. Semua pulau didiami suku dengan bahasa masing-masing.
Sama halnya dengan Gereja, dimana gereja itu Adalah kebhinnekaan. Gereja hadir untuk menyuarakan kebenaran, gereja harus kelurahan dari panggungnya, maaf bukan berlomba untuk membangun Gereja yang mewah. Saya takut kita terjebak masih berpikir feodalistik. Kepemimpin satu bawa gerbong sendiri, ini kegagalan pemimpin dan ini membawa dampak negatif kebhinnekaan. tutur Gernaida.
Gereja kalau tidak berubah bisa digilas zaman. Tidak mau mengalianiasi diri. Isu transpormasi sudah 10 tahun tapi apa hasilnya sekarang?
Yang hilang, pertama solidaritas persaudaraan. Hanya dalam kata-kata tidak praktek nyata. Kita sedang merusak kemanusian lain dengan hoaks, bullyng, merusak alam dsb. Kenapa ada politik identitas karena tidak peduli yang lain.
“STTBI merupakan lembaga pendidikan yang hadir membawa warna kebhinnekaan. STTBI sebagai rumah bersama bagi seluruh stokeholder serta bagian dari integral bangsa Indonesia dan laboratorium kebhinnekaan,” harapnya.
Bicara kebhinnekaan bicara Indonesia yang beragam. Gereja harus menjadi peran penting dalam Kebhinekaan, harus keluar untuk berbuat. Bukan hanya dimimbar, oleh sebab itu, penting merubah pradigma jangan merubah identitas, itu yang dilakukan Yesus ketika bertemu Samaria. Makanya pendekatan transpormatif bukan karikatif, kata Yulius Aris Widiantoro.
Lanjut Yulius, Demokrasi harusnya afirmasi dan oposisi, membutuhkan kedewasaan berorganisasi, harus ada orang berani menyuarakan institusi kita melenceng.
Sekarang yang hilang dalam bangsa kita adalah persatuan dan persaudaraan, yang sering ditonjolkan identitas. Identitas tidak melekat kepada tubuh tapi keprilaku. Kalau yang lain membawa politik identitas tapi gereja tidak berlaku sama, tetap mengoptimalkan persaudaraan. Secara formal sudah ada tapi Implementasinya belum. Kita kerja bukan hanya internal, user kita Indonesia.
“Kita dinamis dalam manispestasi tapi tidak perubahan pradigma. STTBI harus kerja keras untuk itu, talks show ini satu langkah baik,” tambahnya.
Sebelumnya Dr. Sadrach Sugiono Wakil Ketua I STTBI dalam sambutannya mengatakan bahwa pilihan mahasiswa bergabung di STT ini sangat tepat, karena STT ini bagian seminari salah satu yang terbaik di Indonesia, baik sisi pendidikan dan kualitas. STTBI saat ini sudah sangat baik.
Tujuan STTBI adalah mendukung pelebaran gereja-gereja GBI di Indonesia. Saat ini ada ribuan gereja bethel di Indonesia dan tersebar di 20 negara di seluruh dunia.
“Kalian ini, akan menjadi salah satu pemimpin gereja, baik sekarang dan di masa depan,” pesannya.
Kemudian Ketua STTBI Dr. Frans Pantan mengatakan bahwa kedepannya akan banyak melakukan Kegiatan-kegiatan talk show topik lebih menarik, dan sudah menggagas apa yang harus dilakukan.
“Kegiatan ini tidak berhenti disini,kalau Tuhan berkehendak bulan September atau Oktober, kita akan melaksanakan event, dimana nanti kita akan mengundang narasumber yang berbeda keyakinan. Karena kita tidak mau dibilang agresif, atau melanggar norma-norma Kebhinekaan. Tujuan hanya satu, mau merawat Kebhinekaan ditengah pluraritas bangsa yang sangat besar ini, jadi merawat kesatuan itu tidak mudah, terapi kita harus merasa bahwa kita tidak boleh melepaskan diri dari itu, kita adalah bagian dari integral bangsa yang besar ini.
Bukan hanya itu, tetapi ada banyak hal yang akan kita persiapkan, itu sebabnya mulai bulan ini kita akan buat satu studio lebih besar dari ini, dimana dalam studio itu kita akan bkin talk show- talk show seperti yang terjadi hari ini.
“Saya berharap kalau bisa sekali sebulan itu continue dengan membahas topik-topik yang relevan dengan pergumulan baik sebagai umat kristiani maupun sebagai warga bangsa,” imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama Kaprodi Magister Pendidikan Agama Dr. Johni Hardori mengungkapkan kebersamaan dalam Kebhinekaan adalah menampilkan teologi sistematika pentakosta untuk menjawab tantangan yang sifanya ekslusif. Dan itu sudah terjadi di STTBI, jadi yang kuliah di STTBI bukan hanya dari latar belakang suku dan bangsa, tetapi juga dari denominasi lain, misalnya dari khatolik, protestan.
Kaprodi Magister Teologi Dr. Andreas Budi Setyobekti menambahkan toleransi harus ada aplikasinya, seperti di Magister ada mata kuliah Spritual pentakosta, apa itu spritual pentakosta, spritual pentakosta itulah kita menghidupi nilai-nilai, dari pentakosta itu bukan hanya pengetahuannya tetapi juga aplikasinya, penerapannya di gereja dan di masyarakat, dan itu sudah kami buktikan disini, dengan melakukan pendekatan, berbaur bahkan ikut berpartisipasi dalam hal membantu bencana alam yang terjadi disini.
Terakhir Kaprodi Magister Pastoral Konseling Dr. Susana Khatrine memberi penjelasan, bahwa di dalam kepastoralan, mahasiswa diedukasi, dilatih dan didik dengan bekal ilmu yang cukup, sehingga mahasiwa siap terjun bukan hanya di gereja teapi juga di masyarakat umum.













