Pemulung Berusia 98 Tahun di Sanggau, Kalbar, Tak Sungkan Belajar Menulis

  • Bagikan

SEPANJANG HAYAT. Pak Sohor, di usia 98 tahun masih tetap semangat belajar menulis.
**Berbagi Kisah Belajar Sepanjang Hayat
Suaraindo.id – Belajar sepanjang hayat merupakan keharusan setiap individu. Agama dan pendidikan bahkan tidak hentinya menggaungkan hal itu. Sohor Saleh Efendi (98) atau Pak Sohor, mungkin satu diantara begitu banyak orang yang tetap melakukan itu.
Pria kelahiran Batang Tarang, 9 Agustus 1922 ini tetap semangat belajar diusianya yang sudah menginjak 98 tahun. Meski tak pernah mengenyam pendidikan di sekolah, semangatnya untuk tetap belajar dan menulis patut menjadi teladan anak-anak muda. Agaknya, dia tak ingin kisah hidupnya lekang oleh waktu. Paling tidak untuk dibaca oleh anak, cucu dan cicitnya kelak. 
Dulunya, Pak Sohor bekerja menoreh getah di kebun karet. Setelah berhenti, dia memilih mengais rejeki dengan menjadi pemulung. Namun, sejak empat bulan lalu, dia sudah tidak lagi bisa bekerja karena mengeluh sakit di bagian dadanya. Sesak dan susah bernafas kalau terkena cuaca panas menyengat. 
Dirinya memang disarankan untuk beristirahat oleh dokter karena asma yang dideritanya. Sejak memutuskan menjadi pemulung, setiap hari, dia mesti berjibaku dengan sampah dan itu menjadi salah satu sebab kondisi kesehatannya terganggu saat ini. 
Kemampuannya menulis memang diperoleh secara otodidak atau dengan belajar sendiri. Selain itu, dia tidak sungkan bertanya pada sahabat atau anaknya yang bisa menulis. 
Bapak beranak tujuh itu sudah tak bisa jauh dari pembaringannya karena kondisi kesehatannya. Saat disambangi, tanpa mengenakan baju, jemarinya terlihat lentik menuliskan satu persatu huruf, kata demi kata, hingga terangkai menjadi kalimat penuh makna. 
Ada dua tema yang ditulisnya. Pertama mengenai pengalaman hidupnya. Kedua tentang pengetahuan agama Islam. Meski tidak serapih dan seindah tulisan para penulis populer, paling tidak poin penting dari tulisannya dapat disimak dan dimaknai. 
Banyak sekali tulisan sederhananya tentang pengetahuan agama yang diyakininya. Begitu juga dengan cerita-cerita sejarah penjajahan Belanda, konfrontasi Malaysia, hingga pemberontakan PKI. Memang butuh penyempurnaan, namun catatannya itu sungguh memberi kesan.
Kini, hari-harinya yang tanpa kegiatan diisi dengan menulis pada sebuah buku tulis yang dijaga dan dirawatnya hingga tetap terlihat bersih. Buku itu sepertinya akan menjadi saksi pengalaman hidupnya kelak. 
Ditengah keterbatasan ekonomi, kesehatan yang sedikit terganggu, agaknya aktivitas menulis itu sedikit banyak telah menghibur kepiluannya meratap kehidupan saat ini. 
Cairan bening di matanya mungkin sebagai tanda, bahwa dirinya sedang sedih dengan cerita hidupnya sendiri. Kini, dia hanya bisa pasrah dan menggantungkan harapannya hanya kepada Tuhan. 
“Hidup ini sederhana. Pasrahkan saja kepada Allah Subhanahu Wata’ala, Tuhan yang Maha Pemurah,” katanya. 
Dibalik cerita menulisnya, dia ingin catatan sederhananya itu dapat dibaca oleh anak, cucu, cicitnya kelak sebagai kenangan. “Ndak ada yang istimewa. Ini hanya catatan biasa supaya pengetahuan tidak mati,” ujar dia. 
Semangatnya untuk tetap belajar menulis, ditengah himpitan ekonomi dan kesehatan yang tidak baik, perlu diapresiasi. Secara tidak sadar, dia memberi tauladan pada anak-anak bangsa untuk terus belajar tanpa mengeluh, tanpa kenal usia dan menyerah dengan keadaan. Tetap sehat Pak Sohor. Teruslah menulis. Teruslah mengabadi meski usia tak muda lagi. (R_209)

  • Bagikan