MENGENAL PENYAKIT PERIODONTAL, PENYEBAB DAN TATALAKSANANYA
Oleh : drg Meiza Nerawati, M.Biomed
Penyakit periodontal merupakan penyakit yang mengenai jaringan periodontal seperti gingiva, sementum, ligamen periodontal, serta tulang alveolar. Penyakit periodontal dapat dialami semua kelompok umur, baik dewasa maupun anak-anak. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, di Indonesia penyakit periodontal 96,8% pada semua kelompok umur, dan 20,6% untuk anak usia 5-9 tahun. Jika tidak segera diobati dapat menimbulkan masalah serius di rongga mulut. Mulai dari bau mulut sampai akhirnya dapat mengakibatkan kehilangan gigi. Penyakit Periodontal berpengaruh terhadap proses pengunyahan, berbicara, estetis serta mempengaruhi kualitas hidup dan kesejahteraan hidup secara umum.
. Penyakit periodontal ada dua yaitu, gingivitis dan periodontitis. Gingivitis atau yang dikenal dengan radang gusi adalah kondisi inflamasi jaringan gingiva tanpa disertai dengan kerusakan tulang alveolar. Bersifat reversible dan bisa sembuh kalau dilakukan perawatan yang tepat.
Penyakit periodontal lainnya adalah periodontitis. Periodontitis adalah inflamasi pada jaringan gingiva yang disertai dengan kerusakan tulang alveolar. Ini terjadi bila gingivitis dibiarkan. Peradangan akan meluas dan bahkan melibatkan jaringan periodontal. Pada tahap ini kerusakan yang ditimbulkan bersifat irreversible. Artinya kerusakan yang ditimbulkan tidak bisa diperbaiki lagi.
PENYEBAB PENYAKIT PERIODONTAL
Penyakit periodontal disebabkan oleh multifaktor. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit periodontal mulai dari faktor sosio ekonomi, faktor lokal dan sistemik, perilaku, lingkungan, genetik, daerah tempat tinggal, maupun pelayanan kesehatan.
Faktor lokal yaitu plak dan kalkulus, kebersihan rongga mulut yang tidak terjaga, mengakibatkan terjadinya penumpukan plak di gigi. Pembentukan plak terjadi akibat interaksi sisa-sisa makanan dan bakteri yang ada di rongga mulut. Plak yang terbentuk akan menjadi media bagi bakteri untuk berkembang biak. Plak yang terkalsifikasi dan mengalami pengendapan kalsium pada plak basa kemudian terjadi pengapuran dan mengeras maka terbentuklah kalkulus. Kalkulus merupakan jaringan keras yang melekat erat pada gigi yang lebih dikenal dengan istilah karang gigi. Gigi tiruan sebagian lepasan, gigi tiruan cekat, akibat pencabutan gigi, penggunaan kawat gigi dan gigi yang berjejal atau crowded.
Sedangkan faktor sistemik diantaranya adalah penyakit diabetes melitus psikosomatik, stres dan nutrisi. Faktor perilaku yaitu kebiasaan merokok atau mengunyah tembakau dan perilaku menyikat gigi. Sedangkan faktor dari layanan kesehatan yaitu asuhan dental, akses layanan kesehatan serta asuransi kesehatan.
GEJALA PENYAKIT PERIODONTAL
Gingivitis
Merupakan peradangan atau inflamasi pada gingiva yang dimulai dengan gejala : pembengkakan pada gingiva, gingiva berwarna kemerahan, hilangnya tonus gingiva, hilangnya stripping, konsistensi lunak dan terjadi perdarahan ringan.
Periodontitis
Gejalanya : gingiva mudah berdarah ketika menyikat gigi atau mengunyah makanan
bertekstur keras, gingiva bengkak berwarna merah terang atau keunguan, gingiva terasa nyeri dan lunak saat diraba dengan lidah atau jari. Gingiva menyusut sehingga membuat gigi terlihat lebih panjang dari biasanya. Terdapat celah di antara gigi. Keluar nanah diantara gusi dan gigi yang menyebabkan bau mulut dan sensasi tidak sedap dalam mulut. Bau mulut yang persisten. Gingiva dan gigi terasa sakit ketika mengunyah atau menggigit makanan. Gigi tanggal atau copot.
TATALAKSANA PENYAKIT PERIODONTAL
Tatalaksana untuk penyakit periodontal adalah scaling atau yang dikenal dengan pembersihan karang gigi pada permukaan gigi. Untuk permukaan akar gigi dilakukan tindakan root planing yaitu tindakan membersihkan permukaan akar gigi dari deposit lunak dan keras.
Setelah perawatan tersebut diharapkan untuk menjaga kebersihan gigi dan mulutnya. Sikat gigi dua kali sehari, sesudah sarapan pagi dan malam sebelum tidur. Banyak mengonsumsi buah dan sayur serta menghindari makanan yang manis dan lengket. Serta memeriksa kesehatan giginya secara periodik ke dokter gigi, setiap enam bulan.













