![]() |
| Para tokoh Lintas etnis saat menghadiri tradisi budaya Melayu Riam Danau, makan bubur Asyura 10 Muharram 1448 H. (Suaraindo.id/ist) |
Tradisi yang diyakini telah berlangsung sejak 1847 Masehi tersebut tidak hanya menjadi warisan budaya masyarakat Melayu, tetapi juga menjadi simbol persaudaraan lintas suku, agama, dan etnis di wilayah pedalaman Kalimantan Barat.
Menurut catatan sejarah keluarga keturunan Kesultanan Kotawaringin dan Simpang Matan Tanjungpura, tradisi Bubur Asyura diwariskan oleh Pangeran Mangkurat atau Gusti Hidayat, Perdana Menteri Matan Tanjungpura, putra Pangeran Kusuma Agung Ningrat Kotawaringin dan Ratu Jamilan. Tradisi itu kemudian diteruskan secara turun-temurun oleh keturunannya hingga kini.
Ketua Panitia Pelaksana, Uti Muhammad Ehsan, mengatakan pelaksanaan tahun ini menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya kegiatan dilaksanakan secara lebih besar dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat dan tokoh adat.
"Kami berharap kegiatan ini menjadi agenda tahunan yang mampu menjaga warisan budaya sekaligus mempererat persaudaraan masyarakat Jelai Hulu," ujarnya.
Acara tersebut dihadiri perwakilan Pemerintah Kecamatan Jelai Hulu melalui Kasi Tata Pemerintahan, para juriat Kesultanan Kotawaringin, Simpang Matan, Sukamara, Manis Mata, Sandai, Tumbang Titi, Pesaguan, hingga Sentiman Semenjawat.
Kehadiran Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Jelai Hulu, Muliadi, menjadi perhatian tersendiri. Kehadirannya dinilai sebagai simbol kuat harmoni masyarakat adat dan Melayu yang selama ini hidup berdampingan.
Kegiatan juga mendapat dukungan dari Presiden Majelis Adat Dayak Nasional, Dr. H. Rahmat Nasution Hamka, serta Raja Simpang Matan, Gusti Muhammad Hukma (Sultan Muhammad Jamaluddin III) dari Kabupaten Kayong Utara.
Selain tradisi Bubur Asyura, rangkaian kegiatan diisi dengan pemasangan tiang nisan makam Nek Cawan, istri Pangeran Kusuma Agung Ningrat yang berasal dari suku Dayak Air Upas. Nek Cawan dimakamkan di Sungai Kabung, Sengkerupi, Desa Kusuma Jaya.
Sebelum prosesi tersebut, para tamu bersama masyarakat melakukan ziarah ke makam Pangeran Kusuma Agung Ningrat dan Ratu Jamilan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.
Perwakilan juriat keturunan Nek Cawan dari garis Raden Panji, Gusti Sairus Salikin, turut menyampaikan sambutan. Pada kesempatan itu juga dilakukan penyerahan cendera mata kepada Pemerintah Kecamatan Jelai Hulu, pimpinan perusahaan setempat, Ketua DAD Jelai Hulu, Pelaksana Harian Ketua MABM Jelai Hulu, serta tokoh masyarakat Madura.
Suasana semakin khidmat ketika ulama kharismatik Ketapang, Syaikh Muhammad Abdul Quddus, Rois Syuriah PCNU Kabupaten Ketapang sekaligus pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Darul Fadhilah, menyampaikan tausiyah.
Dalam ceramahnya, ia menegaskan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman.
«"Perbedaan suku, agama, dan etnis merupakan anugerah yang harus dijaga dengan saling menghormati. Tradisi seperti ini menjadi contoh nyata bagaimana budaya mampu menyatukan masyarakat," katanya.»
Pada kesempatan yang sama, salah seorang juriat Pangeran Kusuma Agung, Utin Tahra binti Uti Badru Zaman, menghibahkan sebidang tanah seluas sekitar 2,83 hektare kepada Yayasan Darul Fadhilah. Tanah tersebut direncanakan menjadi lokasi pembangunan Madrasah Darul Fadhilah Riam Danau sebagai pusat pendidikan keagamaan di wilayah tersebut.
Pelaksana Harian Ketua MABM Jelai Hulu, Uti Dartani, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap tradisi Bubur Asyura terus dilestarikan sebagai agenda tahunan setiap 10 Muharram.
Tokoh masyarakat Desa Kusuma Jaya, Syamsir, Suparjo, dan Herman juga menyampaikan rasa haru melihat besarnya antusiasme masyarakat.
Mereka menilai kegiatan tersebut bukan sekadar pelestarian budaya, melainkan menjadi ruang memperkuat persaudaraan antaragama, antarsuku, dan antaretnis di Kecamatan Jelai Hulu.
Di sisi lain, tokoh pemuda sekaligus panitia kegiatan, Alipiddin, S.Sos, menyayangkan tidak hadirnya perwakilan Polsek Jelai Hulu meski undangan telah disampaikan sebelumnya.
"Kami berharap ke depan seluruh unsur, termasuk aparat keamanan, dapat hadir bersama masyarakat karena kegiatan ini merupakan upaya mempererat persatuan dan menjaga keharmonisan di Jelai Hulu," ujarnya.
Tradisi Bubur Asyura Riam Danau yang telah bertahan hampir 180 tahun itu kini tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya Kesultanan Kotawaringin dan Simpang Matan Tanjungpura, tetapi juga menjadi simbol hidupnya semangat Bhinneka Tunggal Ika, di mana masyarakat Melayu, Dayak, Madura, Jawa, dan berbagai etnis lainnya dapat berkumpul, berdoa, dan menjaga persaudaraan dalam satu kebersamaan. [AH]
.jpeg)