KAWALI Mulai Susun Database Sejarah 114 Sungai Kota Palembang, Diawali dari Ilir Timur

Editor: Redaksi author photo
Koalisi Kawali Indonesia Lestari (KAWALI) Sumatera Selatan menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Menghimpun Kembali Sejarah 114 Sungai di Kota Palembang di Ruang Rapat Dinas PUPR Kota Palembang, Jumat (10/7/2026).

SuaraIndo.Id- Koalisi Kawali Indonesia Lestari (KAWALI) Sumatera Selatan menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Menghimpun Kembali Sejarah 114 Sungai di Kota Palembang di Ruang Rapat Dinas PUPR Kota Palembang, Jumat (10/7/2026).

FGD ini menjadi langkah awal penyusunan basis data sejarah sungai yang diawali dari kawasan Ilir Timur sebelum diperluas ke wilayah lain di Kota Palembang. 

Diskusi menghadirkan sejarawan sekaligus akademisi UIN Raden Fatah Palembang, Dr. Kemas Abdul Rachman Panji, S.Pd., M.Si., yang lebih dikenal sebagai Kemas Ari Panji, bersama pegiat lingkungan, tokoh masyarakat, dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap sejarah serta pelestarian sungai.

Ketua DPW KAWALI Sumatera Selatan, Chandra Anugrah, mengatakan pendokumentasian sejarah sungai merupakan bagian dari upaya menjaga identitas Palembang sebagai kota maritim yang lahir dan berkembang di tepian Sungai Musi.

"Selama ini banyak sungai di Palembang hilang dan mengalami penyempitan, pendangkalan, bahkan tertutup pembangunan. Padahal setiap sungai memiliki sejarah, fungsi ekologis, dan nilai budaya yang sangat penting," ujarnya.

Menurut Chandra, program tersebut tidak hanya mendata nama-nama sungai, tetapi juga menelusuri asal-usul penamaan, perubahan bentang sungai, fungsi sosial-ekonomi, hingga keterkaitannya dengan perkembangan Kota Palembang sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam.

Sebanyak 114 sungai diinventarisasi dalam tujuh wilayah kajian, yakni Sukarami, Alang-Alang Lebar, Ilir Timur I, Ilir Timur II, Ilir Barat I, Kemuning, dan Kalidoni. Tahap awal difokuskan di kawasan Ilir Timur II yang meliputi Sungai Tai 1, Sungai Tai 2, Sungai Tali Gawe, Sungai Rengas, Sungai Buah, dan Sungai Lawang Kidul.

Pendataan juga mencakup Sungai Sedapat, Sungai Putat, dan Sungai Lubuk Kawah di Sukarami; Sungai Talang Buruk, Sungai Rumbi, dan Sungai Talang Kelapa di Alang-Alang Lebar; serta Sungai Sekanak, Sungai Soak Batok, Sungai Talang Ketip, Sungai Baung, Sungai Hitam, dan Sungai Lebak Keranji di Ilir Barat I.

Untuk memastikan informasi yang dihimpun memiliki landasan ilmiah yang kuat, KAWALI memadukan berbagai sumber, mulai dari arsip nasional, peta kolonial, foto udara lama, literatur sejarah, hingga wawancara dengan sejarawan, budayawan, tokoh masyarakat, dan warga yang masih menyimpan pengetahuan mengenai sejarah sungai.

Pendataan disusun berdasarkan tiga dimensi utama, yaitu dimensi spasial yang menelusuri perubahan alur sungai dan perkembangan permukiman, dimensi kronologis yang mengkaji asal-usul nama serta peristiwa sejarah, dan dimensi sosial yang mendokumentasikan fungsi sungai sebagai jalur perdagangan, transportasi, ruang interaksi masyarakat, hingga pusat aktivitas ekonomi.

Dalam FGD tersebut terungkap bahwa banyak nama sungai di Palembang lahir dari hubungan erat masyarakat dengan lingkungannya. Sungai Tali Gawe, misalnya, diyakini berkaitan dengan aktivitas pembuatan kapal pada masa lampau. 

Sementara Sungai Rengas dan Sungai Nibung mengambil nama dari jenis vegetasi yang dahulu tumbuh di kawasan sekitarnya. Sejumlah sungai lainnya juga memiliki kaitan erat dengan sejarah Kesultanan Palembang Darussalam.

Seluruh data yang terkumpul akan diverifikasi melalui rangkaian FGD sebelum diintegrasikan ke dalam Database Sejarah 114 Sungai Kota Palembang. 

Hasil akhirnya akan diwujudkan dalam bentuk profil dan peta digital setiap sungai, pemasangan QR Code di sejumlah lokasi sebagai media edukasi publik, serta penerbitan buku sejarah sungai Kota Palembang.

Basis data tersebut akan memuat identitas sungai, asal-usul penamaan, fungsi sosial dan ekonomi, sejarah permukiman, aktivitas perdagangan, hingga perubahan bentang sungai dari masa ke masa.

Ia menegaskan, pendokumentasian sejarah sungai bukan sekadar upaya akademik, melainkan bagian dari gerakan pelestarian lingkungan. Menurutnya, sejarah dan ekologi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

"Harapan kami, program ini tidak berhenti sebagai dokumentasi sejarah semata, tetapi menjadi pijakan dalam upaya pelestarian sungai di Kota Palembang. 

Ketika masyarakat memahami nilai sejarah sebuah sungai, kesadaran untuk menjaga keberadaannya juga akan tumbuh," katanya.

Ia menambahkan, KAWALI membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, budayawan, sejarawan, dan masyarakat agar data yang dihimpun memiliki dasar historis yang kuat serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

"Bagi kami, menyelamatkan sejarah sungai berarti menyelamatkan identitas Palembang. Kami berharap gerakan ini menjadi awal kolaborasi semua pihak untuk menjaga sungai sebagai warisan budaya sekaligus penyangga kehidupan," pungkas Chandra

Sementara itu, dalam paparannya, Kemas Ari Panji mengungkapkan bahwa Kota Palembang sejak abad ke-19 telah memiliki jaringan sungai yang sangat padat. 

Hal itu dibuktikan melalui peta Kota Palembang tahun 1877 yang menjadi salah satu rujukan penting dalam penelusuran sejarah sungai memuat nama-nama sungai di kawasan Ilir dan Seberang Ulu. 

Menurutnya, peta tersebut merupakan salah satu sumber historis yang sangat penting untuk menelusuri keberadaan, perubahan alur, serta perkembangan sungai-sungai di Palembang dari masa ke masa.

Berdasarkan peta tersebut, sejumlah sungai telah tercatat sejak akhir abad ke-19, di antaranya River Moesie (Sungai Musi), Soengi Rengas, Soengi Kaligawe, Soengi Tahi, Soengi Belabak, Soengi Lawang Kidoel, Soengai Djeroedjoe, Soengi Bajas, dan Soengi Karang Bengkoewang yang berada di kawasan Ilir.

Sementara itu, di wilayah Seberang Ulu tercatat River Ogan, Soengi Goren, Soengi Pasintren, Soengi Saudagar Koetjing, Soengi Semadjid, Soengi Toewan Poetri, Soengi Kemendoeran, Soengi Kedoekan, Soengi Kelenteng, hingga Soengi Soko.

Menurutnya, peta-peta kolonial menjadi bukti kuat bahwa Palembang dibangun di atas jaringan sungai yang menjadi fondasi perkembangan kota sejak masa lampau.

"Melalui penelusuran arsip dan peta sejarah, kita dapat mengetahui bagaimana perubahan bentang sungai terjadi dari masa ke masa.

Informasi ini penting sebagai dasar pelestarian sejarah sekaligus referensi dalam pengelolaan lingkungan perkotaan," ujarnya.

Ia menjelaskan, sebagian nama sungai masih dikenal masyarakat hingga sekarang. Namun, tidak sedikit yang mulai hilang dari ingatan akibat perubahan tata ruang, penyempitan alur, sedimentasi, hingga pesatnya pembangunan kawasan perkotaan.

Karena itu, menurutnya, upaya mendokumentasikan sejarah sungai menjadi sangat penting agar masyarakat memahami bahwa sungai bukan sekadar saluran air, melainkan bagian dari identitas dan perjalanan panjang Kota Palembang.

Temuan-temuan yang berasal dari arsip, peta kolonial, literatur sejarah, hingga pengetahuan masyarakat lokal tersebut, lanjut Kemas Ari, akan memperkuat penyusunan Database Sejarah 114 Sungai Kota Palembang yang tengah digagas KAWALI Sumatera Selatan.

Basis data tersebut nantinya tidak hanya memuat kondisi sungai saat ini, tetapi juga merekam asal-usul nama, fungsi sosial dan ekonomi, perubahan bentang sungai, serta nilai sejarah masing-masing sungai sebagai warisan budaya yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

"Sungai telah membentuk peradaban Palembang selama berabad-abad. Melalui kajian sejarah yang berbasis arsip, peta, dan sumber-sumber ilmiah. 

Kita berharap lahir kesadaran bersama bahwa melestarikan sungai berarti menjaga memori kolektif, identitas budaya, sekaligus masa depan Kota Palembang," pungkasnya. ***

Share:
Komentar

Berita Terkini