Pemadaman Bergilir di Pontianak Hantam Usaha Kecil, Omzet Turun hingga 80 Persen

Editor: Admin author photo

Usaha Fotocopy dan Print mengalami penurunan penjualan akibat adanya pemadaman listrik bergilir.
Suaraindo.id – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Kota Pontianak dalam beberapa hari terakhir mulai berdampak serius terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Pelaku usaha kecil dan menengah yang bergantung penuh pada pasokan listrik mengaku mengalami penurunan omzet, terganggunya pelayanan, hingga hilangnya pelanggan karena tidak dapat beroperasi secara normal.

Salah satu sektor yang paling merasakan dampaknya adalah usaha depot air minum isi ulang. Ketika listrik padam, seluruh proses produksi dan pengisian air terpaksa dihentikan, membuat pelanggan tidak dapat dilayani.

Utin, karyawan salah satu depot air galon di Pontianak, mengatakan pemadaman yang berlangsung selama beberapa jam menyebabkan aktivitas usaha lumpuh sementara. Kondisi tersebut membuat pelanggan yang datang terpaksa pulang tanpa mendapatkan layanan.

“Tentu terdampak. Hari itu listrik padam dari jam 6 sampai sekitar jam setengah 9 pagi. Biasanya pelanggan datang untuk isi ulang galon, tapi kami tidak bisa melayani karena listrik mati. Kami juga tidak tahu kapan listrik akan kembali menyala,” ujarnya saat ditemui, Sabtu (7/7/2026).

Menurut Utin, dampak pemadaman terlihat jelas dari jumlah galon yang berhasil diisi setiap harinya. Dalam kondisi normal, depot tempatnya bekerja mampu melayani sekitar 300 galon per hari. Namun saat pemadaman terjadi, jumlah tersebut turun drastis.

“Biasanya sehari bisa sekitar 300 galon. Kemarin karena mati lampu hanya sekitar 200 galon yang bisa kami isi,” katanya.

Kondisi semakin sulit karena depot tersebut belum memiliki generator set (genset) sebagai sumber listrik cadangan. Akibatnya, operasional benar-benar berhenti setiap kali pemadaman berlangsung.

“Kami belum pakai genset. Kalau ada pelanggan datang saat listrik mati, biasanya kami arahkan ke depot lain yang masih bisa melayani,” tambahnya.

Tidak hanya usaha air isi ulang, dampak serupa juga dirasakan pelaku usaha jasa fotokopi dan percetakan. Ketergantungan terhadap mesin berbasis listrik membuat seluruh layanan utama tidak dapat berjalan ketika pasokan listrik terhenti.

Reihan, karyawan sebuah toko alat tulis kantor (ATK) yang menyediakan layanan fotokopi dan print, mengaku omzet usahanya anjlok selama pemadaman bergilir berlangsung.

“Dampaknya jelas ke omzet. Biasanya pendapatan sehari bisa sekitar Rp1 juta, tapi saat listrik padam hanya sekitar Rp200 ribu. Jadi turun hampir lima kali lipat,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, dalam sepekan terakhir tempat usahanya sudah mengalami pemadaman sebanyak tiga kali dengan waktu yang berbeda-beda, mulai pagi, siang hingga malam hari.

“Dalam satu minggu ini sudah sekitar tiga kali. Ada yang siang sampai sore, ada yang pagi, bahkan ada yang malam,” katanya.

Menurut Reihan, sebagian besar pelanggan datang untuk memanfaatkan layanan fotokopi dan print. Saat listrik padam, kebutuhan pelanggan tidak dapat dipenuhi karena mesin tidak dapat beroperasi.

“Bukan karena pelanggan berkurang, tapi saat mereka datang kami tidak bisa melayani. Mesin fotokopi dan printer tidak bisa digunakan. Mayoritas pelanggan memang datang untuk print dan fotokopi, bukan membeli alat tulis,” jelasnya.

Pemadaman listrik bergilir yang terus terjadi tidak hanya mengganggu aktivitas rumah tangga, tetapi juga memberikan tekanan terhadap keberlangsungan usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Ketidakpastian jadwal pemadaman membuat pelaku usaha kesulitan mengatur operasional dan meminimalkan kerugian.

Para pelaku usaha berharap kondisi tersebut segera teratasi sehingga aktivitas ekonomi dapat kembali berjalan normal. Mereka juga menginginkan adanya informasi yang lebih pasti terkait jadwal pemadaman agar dapat melakukan antisipasi, terutama bagi usaha yang seluruh proses produksinya bergantung pada listrik.

Bagi mereka, pasokan listrik yang stabil bukan sekadar kebutuhan operasional, melainkan faktor utama yang menentukan kelancaran usaha, kualitas pelayanan, serta keberlangsungan pendapatan sehari-hari. Jika pemadaman terus berlanjut, bukan hanya omzet yang terancam menurun, tetapi juga kepercayaan pelanggan yang selama ini menjadi penopang usaha mereka.[SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini