Suaraindo.id – Beberapa waktu yang lalu warga Subulussalam heboh oleh sebuah video viral seorang wanita berteriak teriak histeris terkait pelayanan RSUD Subulussalam.
Atas video viral tersebut Direktur RSUD Subulussalam dr.Dewi Sartika menyampaikan kronologis nya sekira jam 20.00 wib (minggu 19/10) ada pasien lakalantas alami patah tangan dan sudah ditangani keadaan darurat nya, namun harus dilakukan rujuk ke RS yang lebih lengkap peralataannya.
Kemudian pihak RSUD bermusyawarah untuk dilakukan rujukan ke RS yang ada di Banda Aceh maupun Medan. Menunggu konfirmasi pihak RS yang akan dituju /rujuk tersebut, keluarga pasien kemungkinan panik dan memviralkan.
“Sejak kedatangan hingga terjadinya video viral tersebut ada antar waktu sekitar 2-3 jam, dalam rentang waktu tersebut pihak RSUD sudah melakukan tindakan penanganan darurat sesuai SOP dan sedang menunggu konfirmasi pihak RS rujukan” dan Juga Menunggu persetujuan keluarga pasien ujar dr. Dewi.
Namun demikian kami turut mengucapkan rasa prihatin dan mendoakan semoga pasien lekas sembuh. Dan memohon maaf kepada keluarga pasien bilamana ada kurangnya pelayanan RSUD yang kurang memuaskan semua pihak,” ungkap Dewi Sartika, Direktur RSUD Subulussalam.
Menurut dr. Dewi sebenarnya pasien terkait telah mendapat penanganan secara medis dari pihak Rumah Sakit di sana yakni oleh dokter jaga dr Ridwansyah Nasution.
Dijelaskan, pasien berinsial EG (20) tersebut adalah korban kecelakaan lalu lintas. Dia tiba di RSUD Kota Subulussalam sekitar pukul 20.30 WIB.
Di sana, pasien sebenarnya langsung ditangan secara medis sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).
Pasien yang mengalami patah tulang di lengan telah dipasangi penyangga. Nah, karena berdasarkan pemeriksaan dokter harus dilakukan tindakan medis lanjutan sehingga diarahkan untuk dirujuk.
Sebab, kata dr Dewi untuk tindakan medis lebih lanjut harus dilakukan dokter spesialis orthopaedi dan belum ada di RSUD Kota Subulussalam.
Dr. Dewi juga menjelaskan pasien terkait merupakan korban kecelakaan lalulintas yang penanganannya tidak ditanggung oleh BPJS sehingga harus melalui jalur umum.
Untuk itu, pihak RSUD mempersilakan keluarga pasien untuk bermusyawarah terkait masalah rujukan.
Menurut dr Dewi ada sekitar sekitar satu jam-an rentang waktu pihak keluarga bermusyawarah untuk mendiskusikan masalah rujukan.
Dia juga menjelaskan bahwa proses merujuk pasien juga tidaklah langsung instan tapi ada waktu dan tahapan.
Apalagi untuk rujukan ke Medan, Sumatera Utara. Proses mengirim pasien rujukan melalui SISRUTE ke Rumah Sakit yang dituju dan membutuhkan waktu menunggu tanggapan dari Rumah Sakit terkait.
Pada jam 22.03 dokter RSUD Subulussalam langsung berkoordinasi dengan keluarga pasien atas persetujuan bersedia dirujuk atau tidak.
“Keluarga diminta minta berembuk. Sekitar jam 22.40 keluarga bersedia dirujuk. Dokter kita berkoordinasi dengan beberapa RS di medan dan Banda Aceh. Pukul 22.48 direspon oleh RS Bina Kasih Medan,” terang dr Dewi.
Dikatakan juga setelah melengkapi berkas yang diminta pihak RS Bina Kasih, selesai sekitar jam 00.00 WIB.
Nah, setelah itu dokter jaga berkoordinasi dengan Menko terkait rujukannya.
Lalu, lanjut dr Dewi karena Ambulance RSUD Subulussalam sedang dalam proses perjalanan merujuk dan pulang sehingga mereka berupaya mencari pengganti.
Pihak RSUD Subulussalam menghubungi Ambulance puskesmas terdekat dan di tengah menunggu tiba-tiba pecahlah persoalan tersebut.
Dr Dewi pun memaklumi jika keluarga pasien kemungkin tidak sabar menunggu datangnya ambulance. Padahal, kata dr Dewi pada dasarnya mereka sedang melaksanakan proses namun tentunya tidak serta merta secara instan.
Dia juga menjelaskan bahwa pasien telah dirujuk pada pukul 01.10 WIB. “Artinya yang membuat waktu molor adalah saat menunggu proses keluarga berembuk apakah setuju dirujuk atau tidak,” tandas dr Dewi.
Molor juga terjadi karena menunggu respon balik dari RS rujukan dari Medan dan koordinasi ambulance dari puskesmas karena kejadian sudah dinihari.
Intinya, kara dr Dewi pelayanan dan penanganan medis sudah dilakukan secara baik hanya masalah keberangkatan pasien ke RS rujukan yang sempat molor beberapa saat.
Jika pun terjadi molor sedikit menurut dr Dewi sebenarnya tidak masalah karena pasien itu bukan kritis atau gawat darurat.
Penjelasan ini disampaikan agar masyarakat tidak salah menyikapi video yang viral di mana seakan-akan pihak RSUD Subulussalam mengabaikan pasien.
Padahal dokter jaga telah melakukan tindakan medis terhadap pasien termasuk langkah-langkah lanjutan yaitu berkomunikasi dengan dokter bedah, menyarankan rujukan dan tindakan lainnya,” Demikian ungkap Dewi Sartika, Direktur RSUD Subulussalam dalam keterangan tertulis diterima media melalui Humas RSUD setempat.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS













