Gosip: Lahir dari Prasangka, Tumbuh Lewat Ketidaktahuan

  • Bagikan
Muhammad Adhar

Oleh: Muhammad Adhar

Diiera digital, arus informasi mengalir sangat cepat. Media sosial dan berbagai platform komunikasi memungkinkan segala bentuk kabar tersebar hanya dalam hitungan detik—termasuk gosip. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar telah melalui proses verifikasi yang layak.

Fenomena ini menunjukkan pentingnya literasi digital: kemampuan untuk memilah, menelaah, dan memastikan kebenaran informasi sebelum menyebarkannya lebih lanjut. Gosip, dalam banyak kasus, dapat berdampak negatif terhadap individu maupun masyarakat.

Perlu dipahami bahwa gosip tidak muncul begitu saja. Ia kerap berakar dari prasangka, kesalahpahaman, atau dorongan emosional yang belum terselesaikan. Dalam beberapa situasi, gosip digunakan untuk merendahkan, membandingkan, atau memperkuat posisi sosial tertentu. Tanpa kehati-hatian, hal ini bisa memperkuat stigma dan memperlemah kohesi sosial.

Dalam ruang-ruang yang kurang terbangun secara kritis, gosip bisa menjelma menjadi sarana hiburan, bahkan alat pengaruh. Ia hidup subur di tengah ketidaktahuan, ketika informasi disampaikan tanpa klarifikasi, dan ketika opini pribadi diolah menjadi seolah-olah fakta.

Namun gosip tidak dapat berkembang jika dihadapi dengan kesadaran berpikir dan kehati-hatian dalam bertindak. Ia hanya bertahan di kepala yang menolak berpikir kritis, dan menyebar melalui mereka yang abai terhadap akurasi dan dampak dari informasi yang disampaikan.

Orang yang bijak tidak menutup telinga dari informasi, tetapi memilih untuk tidak menyebarkannya jika tidak jelas sumber dan kebenarannya. Di sanalah peran penting dari sikap selektif, empatik, dan bertanggung jawab terhadap apa yang dibagikan.

Dalam masyarakat yang sehat secara intelektual dan etis, gosip kehilangan daya. Ia berhenti bukan karena tidak terdengar, tetapi karena tidak diteruskan. Inilah pentingnya membangun budaya berpikir, bertanya, dan memverifikasi—agar ruang publik dipenuhi oleh informasi yang mencerahkan, bukan memperkeruh suasana.

*Penulis adalah Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Asosiasi Pewarta Pers Indonesia (A-PPI) Kabupaten Nagan Raya

Penulis: Tim LiputanEditor: Mila
  • Bagikan