Sekilas Info

Konflik

PBB: Korban Sipil Afghanistan Melonjak Setelah Pembicaraan Damai Dimulai

Warga dan pasukan keamanan memeriksa lokasi terjadinya ledakan bom di Kabul, Afghanistan 10 Februari 2021 lalu (foto: dok).

Suaraindo.id--Perserikatan Bangsa-Bangsa, Selasa (23/2) menyatakan kematian dan jumlah warga sipil yang cedera di Afghanistan berkurang 15 persen tahun lalu akan tetapi mengalami lonjakan dalam tiga bulan terakhir setelah pembicaraan damai antara pemerintah dan gerilyawan Taliban dimulai pada September 2020.

Dalam laporan tahunan yang mendokumentasikan korban jiwa, Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA) menyatakan alih-alih meringankan besaran kerugian di kalangan sipil, upaya yang dimaksud sebagai negosiasi perdamaian intra-Afghanistan justru mengarah pada eskalasi kekerasan dengan “tren dan konsekuensi yang merugikan.

UNAMA menjelaskan jumlah korban sipil meningkat sebesar 45 persen pada kuartal keempat tahun 2020 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Jumlah warga sipil yang tewas dan terluka pada November lalu merupakan yang tertinggi sejak misi itu mulai mendokumentasikan secara sistematis korban Afghanistan selama 12 tahun lalu.

Menjelang akhir tahun 2020, warga Afghanistan dihadapkan pada serentetan pembunuhan warga sipil yang ditarget di mana sebagian besar ditujukan pada media, masyarakat sipil, pengadilan dan pegawai pemerintah, serta anggota keluarga pasukan keamanan. Pejabat Afghanistan dan AS menyalahkan Taliban berada di balik kekerasan - tuduhan yang secara konsisten dibantah oleh kelompok pemberontak.

Laporan PBB mencatat jumlah keseluruhan korban sipil pada tahun 2020 mencapai 8.820 jiwa, angka di bawah 10.000 untuk pertama kalinya sejak tahun 2013.

“2020 menjadikan tahun perdamaian di Afghanistan. Sebaliknya, ribuan warga sipil Afghanistan tewas akibat konflik,” kata ketua UNAMA Deborah Lyons.

Laporan itu muncul sehari setelah Taliban dan negosiator perdamaian pemerintah Afghanistan kembali melakukan pembicaraan di Qatar, mengakhiri kegagalan selama sebulan dalam proses tersebut.

Perkembangan itu meningkatkan harapan bahwa kedua pihak yang bermusuhan itu dapat merundingkan upaya untuk mengurangi permusuhan dan mencegah lebih banyak pertumpahan darah dalam perang di Afghanistan pada musim semi mendatang. [mg/jm]

Penulis: VOA
Editor: Heny

Baca Juga