Merkel Bela Kesepakatan dengan AS soal Pipa Gas Alam Rusia

  • Bagikan
Kanselir Jerman Angela Merkel memberikan konferensi pers di Berlin, Kamis (22/7).

Suaraindo.id–Kanselir Jerman Angela Merkel, Kamis (22/7) membela kesepakatan kompromi dengan Amerika untuk mengizinkan dirampungkannya pipa gas alam Nord Stream 2 guna mengangkut bahan bakar dari Rusia ke Jerman tanpa pengenaan sanksi lebih jauh oleh Amerika.

Ia menyebut perjanjian tersebut, yang diumumkan Rabu (21/7) antara Berlin dan Washington, “baik untuk Ukraina,” meskipun jalur Nord Stream 2 senilai $11 miliar, yang telah selesai 98%, akan mengabaikan Ukraina dan Polandia. Jerman dan AS mengatakan berkomitmen memblokir setiap upaya Moskow untuk menggunakan jalur baru sebagai senjata politik guna mengontrol pasokan energi ke Eropa.

Jerman dan AS setuju untuk mendanai proyek energi dan pembangunan alternatif di Ukraina dan Polandia, meskipun kedua negara menyampaikan ketidaksenangannya pada perjanjian tersebut, dengan mengatakan perjanjian itu tidak cukup untuk mengurangi ancaman dikuasainya energi oleh Rusia.

“Perbedaan tetap ada. Kami melihat itu dalam reaksi kemarin,” kata Merkel kepada wartawan di Berlin, mengakui adanya tentangan mengenai kesepakatan itu di Kongres AS.

Para menteri luar negeri Ukraina dan Polandia dalam pernyataan bersama mengatakan perjanjian Jerman-AS itu menciptakan “ancaman politik, militer dan energi untuk Ukraina dan Eropa Tengah, sementara meningkatkan potensi Rusia untuk mengacaukan situasi keamanan di Eropa.”

Anggota Kongres dari Partai Republik dan Partai Demokrat juga bereaksi negatif. Senator Republik John Barrasso dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS mengatakan, “Presiden memberi Rusia senjata geopolitik baru.”

Meskipun Jerman telah berkomitmen untuk mengeluarkan $245 juta untuk pengembangan energi baru di Ukraina, Senator Demokrat Jeanne Shaheen mempertanyakan pentingnya hal itu.

Shaheen, yang mensponsori undang-undang sanksi Nord Stream 2, mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin “telah menjelaskan melalui retorika dan tindakannya bahwa ia akan menghindari persyaratan apa pun yang diajukan pihak Barat untuk memajukan agenda Kremlin.”

Tetapi pemerintahan Presiden Joe Biden, yang ingin memperbaiki hubungan dengan Jerman yang rusak di bawah mantan Presiden Donald Trump, mengatakan pembangunan pipa itu sudah terlalu jauh untuk sekarang dicampakkan.

Merkel mengatakan Jerman sekarang memiliki “banyak pekerjaan rumah” sambil berharap bisa menengahi perpanjangan kesepakatan yang ada untuk transit gas Rusia melalui Ukraina yang membayar miliaran dolar biaya transit ke Kyiv namun akan berakhir pada 2024. Jerman juga ingin membalikkan aliran dari sistim pasokan gas Eropa ke Ukraina. [my/jm]

  • Bagikan