Menhan Bantah Presiden Burkina Faso Ditahan Pemberontak

  • Bagikan
Pasukan keamanan menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa yang mendukung militer di Ouagadougou, Burkina Faso, Minggu (23/1).

Suaraindo.id–Menteri Pertahanan Burkina Faso Aime Barthélemy Simpore memastikan Presiden Roch Marc Christian Kabore tidak ditahan, dan bahwa pemerintah sedang berusaha menghubungi tentara yang melakukan protes di sejumlah pangkalan militer.

Tembakan senjata berat terdengar di sebuah pangkalan militer di ibu kota Ouagadougou Minggu pagi (23/1), memicu kekhawatiran sedang berlangsungnya upaya kudeta setelah banyak pihak merasa semakin frustrasi dengan penanganan pemerintah terhadap pemberontakan Islam yang melanda negara itu.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah RTB, Barthélemy Simpore membenarkan adanya baku tembak di barak tentara, tetapi menyangkal terjadinya pengambilalihan negara itu.

“Saya secara resmi menyangkal bahwa kepala negara telah ditangkap,” tegasnya. Ditambahkannya, “tidak ada institusi Republik yang terganggu.”

Lebih jauh Barthélemy Simpore mengatakan “belum tahu banyak tentang motif penembakan ini. Kami belum tahu apa yang mereka klaim dan masih berupaya memahami situasinya. Kami mencoba menghubungi mereka yang memimpin protes itu untuk memahami motif penembakan ini.”

Ia menggarisbawahi “semuanya masih terkendali.”

Barak militer Lamizana Sangoule saat ini berada di bawah kendali tentara pemberontak, sementara kerumunan orang yang mendukung mereka berkumpul di luar pangkalan itu. Sebagian tentara yang marah melepaskan tembakan ke udara, mengarahkan kemarahan mereka pada presiden atas tewasnya beberapa tentara.

Tentara yang memberontak ini menelpon Associated Press lewat bantuan seorag laki-laki yang mengatakan mereka mengupayakan kondisi kerja yang lebih baik bagi militer Burkina Faso di tengah meningkatnya perang melawan kelompok militan Islam. Tuntutan itu mencakup peningkatan jumlah sumber daya dalam pertempuran melawan ekstremis, dan jaminan perawatan yang lebih baik bagi mereka yang luka-luka dan keluarga korban. Prajurit yang memberontak juga menuntut pergantian hirarki militer dan intelijen.

Dalam wawancara itu Menteri Pertahanan Burkina Faso Aime Barthélemy Simpore menyerukan agar tentara “tetap nasionalis” dan “terus menjalankan misi melindungi wilayah dan rakyat Burkina Faso.”

Insiden ini terjadi sehari setelah pengunjukrasa menuntut pengunduran presiden dalam demonstrasi di Ouagadougou. [em/jm]

  • Bagikan