Murid Afghanistan Melanjutkan Sekolah Musik di Portugal

  • Bagikan
Seorang siswa belajar memainkan tabla di Institut Musik Nasional Afghanistan sebagai ilustrasi. Empat musisi Afganistan, yang kini bermain dan belajar di National Conservatory, tampil bersama beberapa rekan Portugis mereka. (Foto: AP)

Suaraindo.id–Empat musisi Afganistan, yang kini bermain dan belajar di National Conservatory, tampil bersama beberapa rekan Portugis mereka.

Musisi pemain cello Yo-Yo Ma mengagumi kegigihan mereka.

“Mereka mempertaruhkan hidupnya untuk sesuatu yang mereka yakini dan Anda, di Lisbon, membuka hati Anda dan mungkin mempertaruhkan stabilitas, segala macam hal, untuk melakukan tindakan manusiawi,” katanya.

Para mahasiswa itu adalah bagian dari kelompok 273 mahasiswa, anggota fakultas dan keluarganya yang tiba di Lisbon pada bulan Desember setelah melarikan diri dari Afghanistan. Salah seorang diantaranya adalah Marzia Anwari, musisi remaja dari Institut Musik Nasional Afghanistan yang mengagumi Yo Yo Ma.

Seorang gadis Afghanistan berlatih memainkan sitar di sebuah kelas di Institut Musik Nasional Afghanistan. (Foto: AP)
Seorang gadis Afghanistan berlatih memainkan sitar di sebuah kelas di Institut Musik Nasional Afghanistan. (Foto: AP)

“Awalnya saya agak gugup tetapi ketika ia datang dan menyapa kami dan mengatakan Anda akan melakukan sesuatu yang baik untuk kami, itu membuat saya sangat kuat, saya sangat senang sekarang,” tutur Anwari.

Institut Musik Nasional Afghanistan pindah ke negara itu dari Kabul untuk membangun kembali sekolah terkenal mereka di Lisbon.

“Proses integrasi komunitas kami berjalan sangat lancar di sini. Para siswa terdaftar kembali di sekolah, mereka pergi ke Konservatorium, mereka membuat musik, mereka bergabung dengan berbagai ensambel dan orkestra,” ujar Dr. Ahmad Sarmast, pendiri dan pimpinan Institut Musik Nasional Afghanistan.

Para musisi ini termasuk di antara puluhan ribu warga Afghanistan, termasuk banyak dari dunia olahraga dan seni negara itu, yang melarikan diri sejak pejuang Taliban merebut Afghanistan Agustus lalu, ketika AS dan NATO mengakhiri 20 tahun kehadiran militer mereka.

Afghanistan memiliki tradisi musik yang kuat, dan musik pop yang berkembang selama dua dekade terakhir, tetapi para musisi takut akan masa depan mereka di bawah Taliban dan interpretasinya terhadap hukum Islam.

Pemerintah dan donor perusahaan dan swasta menanggung evakuasi dan pemukiman kembali kelompok tersebut. Salah satu pendukungnya adalah pemain cello Amerika pemenang Grammy Yo-Yo Ma, yang akhirnya bertemu dengan para musisi di tempat yang aman.

Institut Musik Nasional Afghanistan, didirikan pada 2010, terkenal dengan inklusivitasnya, dengan anak laki-laki dan perempuan belajar bersama. Itu menjadi simbol Afghanistan baru, dengan para siswanya tampil di gedung-gedung di AS dan Eropa.

Seorang siswa Afghanistan berlatih bermain gitar di sebuah kelas di Institut Musik Nasional Afghanistan. (Foto: AP)
Seorang siswa Afghanistan berlatih bermain gitar di sebuah kelas di Institut Musik Nasional Afghanistan. (Foto: AP)

Kampus sekolah di Kabul sekarang diduduki oleh faksi Taliban. Rekening banknya telah dibekukan dan kantornya digeledah.

Mereka berencana untuk mendirikan kembali sekolah itu di Portugal, yang memungkinkan para siswa untuk melanjutkan pendidikan mereka, sebagai bagian dari pusat budaya Afghanistan yang lebih luas di Lisbon yang menyambut orang-orang yang melarikan diri. [my/jm]

  • Bagikan