Suaraindo.id – Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative/BRI) telah berjalan selama satu dekade dengan berbagai pencapaian yang luar biasa, dan layak untuk dirayakan secara signifikan, demikian ungkap seorang pakar Hongaria.
Levente Horvath, Direktur Pusat Eurasia Universitas John von Neumann di Hongaria, menyampaikan hal tersebut dalam sebuah wawancara dengan Xinhua jelang Forum Sabuk dan Jalur Sutra untuk Kerja Sama Internasional (Belt and Road Forum for International Cooperation/BRF) ketiga.
“Dalam 10 tahun terakhir, kerja sama Sabuk dan Jalur Sutra telah sangat berhasil,” katanya, seraya menambahkan bahwa banyak proyek telah dituntaskan secara efektif di bawah inisiatif tersebut.

Menyoroti peran perintis Hongaria sebagai negara Eropa pertama yang menandatangani perjanjian kerja sama BRI dengan China, Horvath mengatakan hal itu sejalan dengan kebijakan Hongaria “Membuka Diri ke Timur” dan telah menghasilkan kolaborasi yang bermanfaat di antara kedua negara tersebu t.
Mengomentari proyek jalur kereta Hongaria-Serbia, yang merupakan proyek unggulan BRI, Horvath mengatakan bahwa proyek semacam itu memiliki potensi untuk “secara signifikan meningkatkan konektivitas Eropa,” mendorong kerja sama di antara negara-negara Eropa Tengah dan Eropa Timur, dan “membawa banyak manfaat bagi pengembangan wilayah kami.”

Dia juga menyebutkan potensi kerja sama bilateral yang lebih besar di sektor keuangan di bawah kerangka kerja BRI.
BRF ketiga akan diselenggarakan di Beijing pada 17-18 Oktober.
Hingga Juni 2023, China telah menandatangani lebih dari 200 perjanjian kerja sama BRI dengan 150 lebih negara dan 30 lebih organisasi internasional di lima benua, yang menghasilkan sejumlah proyek unggulan dan proyek- proyek berskala kecil namun berdampak besar.













