SuaraIndo.Id — Kontingen anggar Sumatera Selatan (Sumsel) kembali menunjukkan progres positif pada hari kedua Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Anggar 2025 di Palu.
Hingga Senin (17/11/2025), Sumsel telah mengoleksi satu medali perak dan tiga perunggu. Meski belum meraih emas, peluang untuk merebut medali tertinggi disebut masih terbuka lebar.
Ketua Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (IKASI) Sumsel, Charma Afrianto, SE, mengapresiasi kerja keras para atlet yang tetap tampil kompetitif di tengah berbagai keterbatasan.
“Alhamdulillah, anak-anak tampil luar biasa. Sampai hari ini kita sudah mengemas satu perak dan tiga perunggu. Ini capaian yang harus kita syukuri. Saya yakin peluang emas masih sangat terbuka,” ujar Charma dalam keterangan tertulisnya yang diterima, pada Senin (17/11/2025) malam.
Namun, di balik raihan tersebut, Charma menegaskan bahwa para atlet Sumsel bertanding dalam kondisi yang jauh dari ideal.
Menurutnya, dukungan yang sangat minim dari berbagai pihak membuat konsentrasi atlet kerap terpecah.
“Terus terang, kondisi di lapangan tidak mudah. Dukungan yang masuk masih sangat minim, padahal kebutuhan atlet untuk bisa fokus bertanding itu besar,” tegasnya.
Ia menyebut, sejumlah atlet bahkan harus membagi perhatian antara persiapan teknis, kebutuhan biaya, hingga kekhawatiran terkait perlengkapan dan pendampingan.
“Mereka harus mikir soal biaya, soal peralatan, soal akomodasi. Konsentrasinya terpecah antara kebutuhan dan lawan tanding. Ini tekanan ganda, tapi mereka tetap berusaha tampil maksimal,” tambah Charma.
Meski demikian, IKASI Sumsel tetap optimistis. Beberapa nomor unggulan baru akan dipertandingkan pada hari-hari berikutnya dan diyakini menjadi peluang utama Sumsel untuk meraih medali emas pertama di Kejurnas 2025.
“Besok dan lusa ada nomor-nomor utama yang menjadi kekuatan kita. Kami berharap para atlet bisa memanfaatkan peluang ini. Kami minta doa masyarakat Sumsel agar anak-anak bisa pecah emas,” ujar Charma.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada pelatih dan ofisial yang terus mengawal persiapan teknis atlet di tengah keterbatasan fasilitas dan logistik.
“Ini kerja tim. Pelatih, ofisial, semuanya berjuang dalam keadaan yang tidak mudah. Mereka tetap menjaga fokus atlet, memastikan agar mental bertanding tetap terjaga,” katanya.
Charma berharap capaian hari kedua dapat menjadi perhatian banyak pihak, terutama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan olahraga, agar pembinaan anggar Sumsel mendapat dukungan yang lebih layak.
“Potensi kita besar. Regenerasi berjalan. Tapi tanpa dukungan memadai, sulit untuk melompat lebih tinggi.
Prestasi ini seharusnya menjadi alarm sekaligus dorongan agar anggar Sumsel tidak dibiarkan berjalan sendiri,” tutupnya. ***













