SUARAINDO.ID —— Di tengah ketidakpastian cuaca dan naik turunnya harga komoditas, petani vanili di Dusun Duren, Desa Lenek Duren, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur tetap bertahan mengembangkan budidaya tanaman bernilai ekonomi tinggi tersebut.
Salah satunya adalah Kenny, petani vanili yang telah menekuni budidaya ini bersama suaminya selama empat tahun terakhir.
Keny menilai kondisi tanah di wilayahnya yang tergolong gambut sangat mendukung pertumbuhan vanili.
“Potensinya bagus karena tanah di sini termasuk tanah gambut, cocok untuk vanili. Kualitasnya sebenarnya tergantung penanganan dan perawatannya,” ujarnya saat ditemui dikebunnya, Rabu 6 Mei 2026.
Saat ini, Kenny mengelola lahan sekitar 50 are dengan jumlah tanaman kurang lebih seribu batang, sebagian di antaranya masih baru ditanam.
Sebelumnya, lahan tersebut ditanami alpukat, pisang, dan kelapa yang dinilai kurang produktif.
Namun, tantangan terbesar bukan pada teknik budidaya, melainkan kondisi cuaca yang tidak menentu.
Menurutnya, hujan deras justru menjadi ancaman serius bagi tanaman vanili.
“Yang kita waspadai itu musim hujan. Kalau hujan terlalu deras saat masa polinasi, bisa gagal. Selain itu, penyakit yang sering muncul itu busuk batang. Kalau sudah kena, harus disingkirkan karena tidak bisa diselamatkan,” jelasnya.
Dalam perawatan vanili, Kenny mengaku tidak menggunakan pupuk kimia khusus.
Petani memanfaatkan pupuk kandang dari kotoran sapi. Pengetahuan budidaya pun diperoleh secara otodidak melalui video di YouTube.
“Kami belajar sendiri. Bahkan rumput di bawah tanaman tidak boleh dicabut karena bisa merusak akar dan menyebabkan busuk batang,” katanya.
Vanili dipanen setahun sekali setelah melewati masa sekitar delapan bulan pasca polinasi.
Pada panen tahun lalu, dari tiga lokasi lahan, Kenny mengaku mampu menghasilkan hampir dua kuintal vanili basah.
Namun tahun ini, hasil panen diperkirakan menurun akibat curah hujan tinggi yang terjadi terus-menerus.
Dari sisi harga, kondisi pasar saat ini dinilai mulai membaik dibanding tahun sebelumnya.
Untuk vanili basah, harga penawaran mencapai sekitar Rp100 ribu per kilogram. Sementara vanili kering dapat menembus harga hingga Rp1 juta per kilogram.
“Tahun lalu harganya anjlok sekali. Vanili basah cuma Rp35 ribu, kering paling tinggi Rp350 ribu. Sekarang sudah lumayan naik,” ungkapnya.
Kenny mengaku selama ini pemasaran hasil panen masih bergantung pada pengepul lokal.
Sesekali, wisatawan mancanegara yang berkunjung membeli dalam jumlah kecil sebagai oleh-oleh karena keterbatasan regulasi ekspor.
Kenny menyebutkan, kebun vanilinya juga kerap dijadikan lokasi edukasi atau agrowisata sederhana bagi pengunjung yang ingin belajar budidaya vanili.
Meski demikian, Kenny berharap ada perhatian dan pendampingan dari pemerintah, terutama dalam pembentukan kelompok tani vanili dan dukungan pemasaran.
“Kalau ada dukungan dari pemerintah, mungkin lewat kelompok tani, kami bisa lebih semangat. Apalagi ini sangat membantu ekonomi keluarga,” katanya.
Di Desa Lenek Duren sendiri, tercatat sekitar 14 hingga 15 petani yang pernah mengembangkan vanili. Namun saat harga anjlok tahun lalu, banyak yang merusak tanamannya karena merasa tidak lagi menguntungkan.
Kini, hanya sebagian kecil yang masih bertahan.
Menurut Kenny, dukungan pendampingan teknis dan stabilitas harga sangat dibutuhkan agar budidaya vanili dapat kembali diminati warga dan menjadi komoditas unggulan di wilayah tersebut.
Petani Vanili Lenek Duren Bertahan di Tengah Cuaca Tak Menentu dan Fluktuasi Harga













