SUARAINDO.ID —— Ketua TP PKK Provinsi Nusa Tenggara Barat, Hj. Sinta Agathia Iqbal, menegaskan perlunya perhatian lintas sektor dalam menangani persoalan pernikahan anak yang masih terjadi di NTB.
Isu tersebut tidak dapat ditangani oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai unsur mulai dari pemerintah hingga organisasi masyarakat.
Menurutnya, penanganan pernikahan anak harus melibatkan hubungan sosial yang kuat serta dukungan dari sektor kesehatan, keagamaan, adat, dan organisasi perempuan berbasis masyarakat.
TP PKK NTB memberikan perhatian khusus terhadap masalah pernikahan anak di NTB.
”Ini tidak bisa dilakukan satu sektor saja. Harus lintas sektor, mulai dari provinsi, kabupaten, kecamatan, hingga desa. Ini isu sosial yang juga banyak berkaitan dengan kesehatan,” ujarnya saat ditemui di Lombok Timur, Selasa 19 Mei 2026.
Sinta menjelaskan, TP PKK NTB telah membangun kerja sama dengan sejumlah organisasi perempuan berbasis agama, adat, dan kesehatan untuk bersama-sama melakukan edukasi dan pencegahan di tengah masyarakat.
Selain melibatkan unsur pemerintahan, pihaknya juga menggandeng relawan, aktivis, dan organisasi kepemudaan.
Pendekatan ini dinilai penting karena edukasi kepada remaja akan lebih efektif bila dilakukan oleh sesama generasi yang memiliki kesamaan bahasa dan frekuensi komunikasi.
“Kita melibatkan adik-adik kita dari berbagai organisasi untuk turun langsung memberikan edukasi kepada teman-teman seusianya. Karena mereka punya bahasa yang sama, frekuensi yang sama,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sinta juga menyinggung dampak penggunaan gadget terhadap kesehatan mata anak.
Meski tidak menyebutkan angka pasti, Sinta mengingatkan pentingnya penggunaan gadget secara bijak, terutama memperhatikan durasi pemakaian dan pencahayaan.
Paparan cahaya dari layar gadget yang berlebihan, menurutnya, berpotensi memengaruhi kesehatan mata jika tidak diimbangi dengan kebiasaan penggunaan yang tepat.
“Anak-anak harus memperhatikan cara penggunaan gadget, waktunya jangan berlebihan, dan pastikan pencahayaan cukup agar kesehatan mata tetap terjaga hingga usia dewasa,” pesannya.
Sinta menambahkan, saat ini belum ada program khusus berbasis sekolah untuk mengurangi penggunaan gadget pada anak.
Namun, edukasi tentang penggunaan gadget secara bijak terus digalakkan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan anak secara menyeluruh.
TP PKK NTB Soroti Pernikahan Anak dan Edukasi Penggunaan Gadget pada Anak













