China: Standar Ganda Jika Samakan Taiwan dan Ukraina

  • Bagikan
Potongan catur terlihat di depan bendera China dan Taiwan dalam ilustrasi yang diambil pada 25 Januari 2022. (Foto: REUTERS/Dado Ruvic)

Suaraindo.id–Beijing menekankan bahwa usaha untuk menyamakan masalah Taiwan dan Ukraina adalah “standar ganda yang jelas terlihat.” Menteri Luar Negeri China, Senin (7/3), menegaskan bahwa Taiwan adalah bagian wilayahnya sehingga masalah terkait hal tersebut sepenuhnya merupakan masalah domestik. Pernyataan tersebut memicu kegeraman Taipei.

China mengklaim pulau yang diperintah secara demokratis itu sebagai wilayahnya sendiri dan selama dua tahun terakhir telah meningkatkan tekanan militer terhadap Taiwan. Beijing selalu menggunakan kekuatannya untuk membawa Taipei kembali di bawah kendalinya.

Pemerintah China dan Taiwan setuju bahwa situasi Taiwan dan Ukraina berbeda, tetapi untuk alasan yang berbeda.

China mengatakan Taiwan tidak pernah menjadi negara merdeka, sementara produsen chip utama Taiwan mengatakan negaranya penting secara geopolitik dan, tidak seperti Ukraina dan Rusia, Taiwan tidak memiliki perbatasan darat dengan China.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan masalah Taiwan dan Ukraina “sama sekali tidak bisa disamakan” karena Taiwan adalah masalah domestik bagi China, sementara Ukraina adalah sengketa antara dua negara.

“Kami telah melihat bahwa beberapa orang menekankan prinsip kedaulatan pada masalah Ukraina, tetapi terus merusak kedaulatan dan integritas teritorial China dalam masalah Taiwan. Ini adalah standar ganda yang jelas terlihat,” katanya, merujuk pada Amerika Serikat (AS).

Washington adalah pendukung Taiwan terpenting dan pemasok senjata Taipei, yang sering menjadi sumber gesekan dalam hubungan China-AS.

China tidak mengakui klaim kedaulatan pemerintah Taiwan, yang sebaliknya mengatakan Republik Rakyat China tidak pernah memerintah pulau itu dan hanya rakyat Taiwan yang dapat memilih masa depan mereka.

Wang, berbicara pada konferensi pers tahunannya di sela-sela pertemuan parlemen tahunan China, mengatakan ketegangan yang tercipta merupakan kesalahan Taiwan karena penolakan pemerintahnya untuk menjadi bagian dari China, yang akan “merusak masa depan Taiwan.”

Dia berharap masa depan Taiwan terletak pada pengembangan hubungan damai di selat yang memisahkan mereka.

Dewan Urusan Daratan Taiwan mengatakan bahwa ancaman militer China, tekanan diplomatik dan upaya untuk “menyerang” pulau itu yang merupakan penyebab utama munculnya ketegangan.

“(Hal) ini juga yang menyebabkan mengapa (China) tidak mau mengutuk agresi Rusia,” tambahnya dalam sebuah pernyataan.

Beijing telah menolak untuk mengutuk serangan Rusia ke Ukraina atau menyebutnya sebagai invasi. [ah/rs]

  • Bagikan