Inflasi Tinggi di AS, Biden Salahkan ‘Kenaikan Harga Putin’

  • Bagikan
Presiden AS Joe Biden menyalahkan inflasi tinggi di AS akibat ulah Presiden Rusia Vladimir Putin (foto: dok).

Bagi Presiden Joe Biden, kesulitan biaya pengeluaran yang dirasakan warga Amerika bermuara pada sebuah slogan: “Putin’s price hike” atau “kenaikan harga yang diakibatkan oleh ulah Putin.” Selama lebih dari sebulan, kini pemerintahan Biden berupaya menyalahkan kenaikan harga pada invasi Presiden Rusia itu ke Ukraina. Namun kenyataannya isu ini bersifat lebih kompleks, kata para analis.

Sejak perang di Ukraina dimulai hampir tujuh minggu lalu, kenaikan harga terjadi – dan tidak hanya diderita oleh masyarakat Amerika.

Harga secara keseluruhan, mulai dari BBM kemudian pupuk hingga bahan makanan meningkat di seluruh dunia, di negara-negara yang jauh dari konflik seperti Maroko, Brazil, dan India.

Presiden Joe Biden menciptakan slogannya sendiri dengan penjelasan “kenaikan harga akibat ulah Putin.”

“Dengan segala upaya, termasuk perintah eksekutif, saya berupaya menurunkan harga sekaligus mengatasi kenaikan harga akibat ulah Putin ini. Bahkan sudah ada kemajuan sejak laporan data inflasi Maret lalu. Pengeluaran rumah tangga, daya beli BBM untuk kendaraan, seharusnya tidak terjadi karena ada seorang diktator (Putin, red.) menyatakan perang dan melakukan genosida di belahan dunia lain,” kata Biden.

Dalam sebuah kunjungan ke Iowa pada Selasa (12/4), Biden mengizinkan ditingkatkannya persentase etanol di dalam bensin – sebuah langkah yang akan mampu menurunkan harga BBM namun berisiko menyebabkan lebih banyak kabut asap.

Invasi Rusia ke Ukraina berdampak pada kenaikan harga komoditas pangan global, dan badan pangan PBB mengatakan bahwa perang mengakibatkan kenaikan harga gandum, jagung dan minyak sayur.

Akan tetapi para ekonom juga menyebutkan sebuah tren kenaikan harga komoditas yang lebih luas dan lebih lama, dukungan kebijakan untuk menanggapi inflasi, munculnya permintaan besar pasca-pandemi, dan gangguan pada rantai pasokan.

Analis konservatif mengatakan Putin bukanlah satu-satunya penyebab—kisruh ekonomi ini, atau berperan penting.

EJ Antoni, peneliti di Pusat Analisis Data dari Heritage Foundation yang konservatif mengemukakan, “Ini terjadi jauh sebelum invasi Putin ke Ukraina. Pemerintah beralih dari mengatakan, ‘Tidak ada inflasi’ kemudian menjadi, ‘Ya, ada inflasi, tapi itu bersifat sementara. Jadi, jangan khawatir.’ Kemudian inflasi menjadi masalah penting, dan pada akhirnya, inflasi bagus. Sekarang, mereka membalikkan kembali skenarionya. Bukan hanya inflasi yang buruk, namun kini bukanlah salah mereka. Sekarang, ini disebabkan oleh kesalahan Putin. Saya taksir sekitar 8 dari kenaikan 8,5 persen yang kita saksikan selama setahun terakhir, tidak ada hubungannya dengan invasi ke Ukraina. Itu hanya fenomena baru-baru ini. Itu tidak menjelaskan kenaikan harga, khususnya harga energi dari waktu sebelum invasi.”

Sementara, pengamat yang lain mengatakan bahwa Putin punya andil lebih besar dalam permasalahan ini.

William Reinsch dari Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) berpandangan, “Seandainya tidak ada perang, kita dapat berargumen bahwa harga akan mencapai puncaknya dan mulai menurun. Karena terjadi perang, ya benar itu adalah kenaikan harga akibat ulah Putin. Saya pikir hal itu tidak usah dipertanyakan lagi. Sebagaimana saya katakan sebelumnya, dia tidak memulainya. Semua ini berawal dari sebelum perang, tetapi dia membuatnya lebih buruk, dan dia pantas untuk disalahkan.”

Ekonomi Rusia juga terpukul keras oleh gelombang sanksi yang diberlakukan oleh AS dan sekutu-sekutu NATOnya. Bank sentral Rusia telah mendongkrak rubel lewat peningkatan suku bunga secara dramatis dan memberlakukan kendali keuangan lainnya. [mg/jm]

  • Bagikan