suaraindo.id — Pemerintah Iran mengumumkan meningkatnya jumlah korban jiwa dari kalangan sipil akibat eskalasi serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel. Dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/3). Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyatakan bahwa lebih dari 500 warga sipil Iran telah meninggal dunia, termasuk lebih dari 200 anak-anak.
Boroujerdi menegaskan bahwa serangan terhadap Iran masih terus berlangsung hingga hari ini dan tidak hanya menyasar instalasi militer. Ia menyebut gempuran rudal dari kedua negara tersebut telah mengenai rumah penduduk, fasilitas kesehatan, serta gedung sekolah, yang membuat jumlah korban sipil melonjak tajam.
“Dalam serangan ini, mereka menyerang masyarakat Iran yang tidak berdosa. Mereka menyerang sekolahan anak-anak yang masih duduk di bangku SD, menyebabkan anak SD dan masyarakat sipil mencapai tingkat kesyahidan,” ujar Boroujerdi dengan nada tegas.
Iran, kata dia, menilai bahwa agresi tersebut telah melanggar kedaulatan negara dan prinsip-prinsip hukum internasional. Teheran menegaskan berhak melakukan serangan balasan dengan menargetkan pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di negara-negara sekitar Iran, yang selama ini digunakan sebagai titik peluncuran operasi militer.
Boroujerdi juga menggambarkan kondisi lapangan sebagai “sangat memilukan,” karena sebagian besar fasilitas vital yang rusak merupakan bangunan yang berfungsi untuk kepentingan masyarakat luas. Rumah sakit, sekolah, hingga permukiman padat penduduk disebut telah berubah menjadi puing-puing akibat gempuran udara.
Situasi ini memperkeruh eskalasi kawasan yang dalam beberapa pekan terakhir sudah berada pada titik kritis. Sementara Iran mengutuk keras serangan yang menewaskan ratusan warganya, komunitas internasional masih menunggu langkah diplomatik lanjutan untuk meredakan ketegangan yang terus meningkat.













