UMKM Ogan Ilir Masih Konvensional, Pelatihan Manajemen dan Akuntansi Jadi Solusi

  • Bagikan
Foto bersama pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Palembang dan UMKM di Ogan Ilir (SuaraIndo.id/Dok)

SuaraIndo.id – Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan dosen dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palembang ini mengungkap fakta bahwa lebih dari 90 persen UMKM di Desa Meranjat 3 masih belum memiliki badan hukum resmi.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada terbatasnya akses pelaku usaha terhadap permodalan, program pemerintah, hingga peluang kemitraan dengan perusahaan besar.

“Legalitas usaha menjadi pintu masuk utama bagi UMKM untuk berkembang. Tanpa itu, sulit bagi mereka untuk menjangkau pasar yang lebih luas,” ungkap Eni Cahyani tim pelaksana  dalam kegiatan yang digelar di Kantor Desa Meranjat, (30/1/2026) lalu.

Tak hanya soal legalitas, sebagian besar pelaku UMKM juga masih mengandalkan metode konvensional dalam menjalankan usaha. Padahal, transformasi digital dan penguatan manajemen menjadi kunci utama dalam meningkatkan daya saing.

Melalui pelatihan ini, peserta dibekali pemahaman tentang pentingnya pola pikir kewirausahaan (entrepreneurial mindset), manajemen usaha, hingga pencatatan keuangan sederhana.

Salah satu materi yang mendapat perhatian adalah cara menghitung Harga Pokok Produksi (HPP). Misalnya, dari total biaya produksi Rp350 ribu untuk 100 pcs kemplang, maka biaya per unit sebesar Rp3.500. Perhitungan ini dinilai penting agar pelaku usaha dapat menentukan harga jual yang tepat dan memperoleh keuntungan.

Selain itu, pelaku UMKM juga didorong untuk lebih percaya diri, berani mengambil peluang, serta membangun jejaring usaha. Sebab, rendahnya kepercayaan diri dan pola pikir jangka pendek dinilai menjadi salah satu penghambat berkembangnya usaha.

Meski mendapat respons positif, kegiatan ini masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti rendahnya literasi keuangan, keterbatasan waktu pendampingan, serta belum meratanya partisipasi pelaku UMKM.

Ke depan, sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pelaku usaha dinilai sangat penting untuk mendorong UMKM agar lebih maju, berdaya saing, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Dengan penguatan manajemen dan akuntansi yang berkelanjutan, UMKM di Desa Meranjat 3 diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu berkembang dan menjadi pilar ekonomi daerah.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

  • Bagikan