Merugi di Masa Pandemi, Petani Beralih Tanam Anggur

  • Bagikan

Suaraindo.id—Sulitnya perekonomian masyarakat di masa pandemi Covid-19, juga dirasakan oleh petani. Salah satu yang merasakan dampaknya yakni petani asal Desa Padamara Kecamatan Sukamulia Kabupaten Lombok Timur.

Petani asal Desa Padamara, Lalu Maulana sebelumnya menanam tembakau, cabai dan padi di atas lahan seluas 10 are sejak satu tahun terakhir. Selama pandemi covid-19 tersebut, Lalu Maulana mengaku tanaman pertanian miliknya tidak pernah menemukan harga mahal dan selalu merugi.

Ingin bangkit dari perekonomian ditengah pandemi Covid-19, Lalu Maulana nekat beralih dari tanaman padi dan tembakau ke budidaya tanaman anggur yang dimulai 10 bulan terakhir.

“Saya hanya coba-coba dan nekat. Karena saya tidak paham melakukan budidaya tanaman anggur,” ujar Maulana saat ditemui di ladangnya, Senin (31/5/2021).

Ia mengaku, dulu juga menanam padi dan tembakau tetapi hasilnya jauh dari harapan. Lahan 10 are tersebut hanya menghasilkan 7 kwintal sampai 8 kwintal untuk padi dan tembakau. Sementara untuk cabai hanya menghasilkan Rp 5 juta per musim. Hitungan tersebut dinilai sangat rugi bagi ukuran petani, karena banyak mengeluarkan biaya produksi.

Melihat prospek harga tembakau, padi dan cabai tidak kunjung membaik, Lalu Maulana nekat beralih tanam dan melakukan budidaya anggur. Diatas lahan 10 are tersebut, Lalu Maulana menanam bibit anggur sebanyak 200 benih dengan berbagai varian dan jenis anggur.

“Saya mulai tanam anggur ini sejak 10 bulan lalu, dan alhamdulillah sudah mukai panen pada bulan Ramadan kemaren,” ujar Lalu Maulana kepada Suaraindo.id.

Lebih lanjut, ia mengatakan tanaman dan budidaya angguur dinilai sangat menguntungkan. Pada panen perdana bulan Ramadan lalu, sekali panen mampu menghasilkan 4 kwintal buah anggur. Jenis anggur yang ditanami sebanyak 20 varian seperti Ninel, Trans, Harol, Jupiter, Bikson, Akademik dan lainnya.

Untuk meningkatkan nilai jual, pemilik membuka konsep wisata anggur dengan sensasi petik sendiri. Alhasil, tidak membutuhkan waktu lama buah anggur terseut ludes selama lebaran Idul Fitri kemarin. Dari hasil penjualan tersebut, mampu menghasilkan hingga puluhan juta sekali panen.

Dengan petik sendiri, pembeli membayar Rp75 ribu per kilogram. Dari hitungan Lalu Maulana, buah anggur yang dihasilkan lebih dari 4 kwintal. “Tinggal dikalikan hasilnya. Sehingga tanaman anggur jauh lebih menguntungkan dibandingkan tanaman tembakau, padi dan cabai yang harganya tidak menentu,” kata Lalu Maulana.

Untuk panen kali kedua, Lalu Maulana saat ini sedang menyematkan kembali, untuk persiapan panen pada bulan Agustus dan September.

  • Bagikan