Suaraindo.id – Setelah beberapa pekan dilanda cuaca panas dan kekeringan, hujan mulai kembali membasahi sebagian besar wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) sejak awal Agustus 2025. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Supadio Pontianak memprediksi bahwa musim penghujan secara bertahap akan mendominasi wilayah Kalbar selama bulan ini.
Prakirawati BMKG, Septikasari, menjelaskan bahwa curah hujan telah terpantau turun sejak 1 Agustus 2025, dan diperkirakan akan terus terjadi di sejumlah kabupaten/kota, terutama pada pagi hingga sore hari.
“Untuk hari ini curah hujan turun bervariasi. Di Kota Pontianak, curah hujan tercatat mencapai 94 milimeter, dan dipastikan dapat menimbulkan genangan air di sejumlah titik,” ujar Septikasari saat diwawancarai, Sabtu (2/8/2025) pagi.
Berdasarkan analisis angin di lapisan 3.000 feet, sebagian besar wilayah Kalbar berpotensi diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga lebat. BMKG juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem.
“Hujan berpotensi terjadi dari pagi, siang hingga sore hari, dan bisa disertai kilat, petir, serta angin kencang berdurasi singkat,” jelas Septikasari.
Kondisi ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati, terutama pengendara di jalanan serta warga yang tinggal di daerah rawan genangan dan banjir.
Meski hujan mulai turun, BMKG mencatat bahwa indeks kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (IKK) masih tergolong tinggi di beberapa wilayah Kalbar. Dalam rentang waktu 2 hingga 8 Agustus 2025, beberapa daerah masih berada dalam status mudah hingga sangat mudah terbakar.
“Kami mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan menghindari aktivitas yang dapat memicu karhutla, meskipun hujan sudah mulai turun,” tegas Septikasari.
Pemerintah daerah diharapkan segera menyesuaikan langkah mitigasi terkait dampak cuaca, baik dalam bentuk antisipasi banjir lokal akibat curah hujan tinggi, maupun penanggulangan karhutla di daerah yang masih rawan. Masyarakat juga diimbau tidak membuang sampah di saluran air, mengingat curah hujan yang tinggi dapat memperburuk kondisi drainase kota.
Dengan datangnya musim penghujan, Kalbar memasuki fase krusial alam menghadapi dinamika cuaca yang tidak menentu. Sinergi antara masyarakat dan pemerintah menjadi kunci utama dalam menjaga keselamatan dan kelestarian lingkungan.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS













