suaraindo.id — Lebih dari sebulan pascabanjir bandang yang melanda Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, aktivitas pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Tapanuli Tengah hingga kini masih lumpuh total. Banjir setinggi sekitar dua meter yang terjadi pada 25 November 2025 itu menghancurkan hampir seluruh fasilitas sekolah dan memaksa kegiatan belajar-mengajar terhenti sepenuhnya.
Sekolah yang berlokasi di Kelurahan Padang Masiang tersebut hingga kini belum dapat digunakan. Lumpur tebal masih menggenangi ruang-ruang kelas, kantor guru, musala, serta ruang administrasi, menyisakan kerusakan parah pada sarana dan prasarana pendidikan.
Kepala MAN 1 Tapanuli Tengah, Elmaryanti Marbun, S.Ag., M.Hum., didampingi Ketua Komite Sekolah Azwirdan Tanjung, Wakil Kepala Bidang Akademik Rahmiyani Sinaga, S.Pd., serta Wakil Kepala Bidang Kesiswaan Ricky Segal, S.Pd., menuturkan banjir datang secara tiba-tiba dan meluluhlantakkan seluruh lingkungan sekolah.
“Tidak ada yang tersisa. Seluruh ruangan terendam lumpur pekat. Peralatan sekolah seperti komputer, meja, kursi, lemari, hingga dokumen penting rusak dan hancur,” ujar Elmaryanti saat ditemui di lokasi.
Ia menjelaskan, hingga kini proses pembersihan belum dapat dilakukan secara maksimal. Ketebalan lumpur yang memenuhi hampir seluruh ruangan membuat pembersihan manual nyaris mustahil dilakukan.
“Kami sangat membutuhkan bantuan alat berat. Tanpa alat berat, pengangkutan lumpur akan memakan waktu sangat lama, sementara kondisi sekolah sama sekali tidak memungkinkan untuk digunakan,” katanya.
Dampak bencana ini turut dirasakan para siswa. Sejak hari pertama banjir, seluruh aktivitas belajar-mengajar terhenti. Kondisi ini kian memprihatinkan karena para siswa dijadwalkan akan menghadapi ujian semester ganjil dalam waktu dekat.
“Kasihan anak-anak. Mereka sudah cukup lama tidak sekolah dan banyak tertinggal pelajaran. Kami khawatir kondisi ini berdampak serius terhadap proses pendidikan sekaligus kondisi psikologis siswa,” ungkap Elmaryanti dengan nada prihatin.
Meski berada dalam keterbatasan, pihak sekolah mengapresiasi kepedulian para guru dan warga sekitar yang sejak awal kejadian banjir turut membantu proses evakuasi serta penyelamatan peralatan yang masih bisa diamankan.
“Di hari-hari awal, para guru bersama warga sekitar turun membantu semampunya. Kami sangat bersyukur atas solidaritas dan kepedulian masyarakat,” ujarnya.
Pihak sekolah berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait segera memberikan perhatian serius terhadap percepatan pemulihan Kabupaten Tapanuli Tengah, khususnya di sektor pendidikan. Bantuan alat berat dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar pembersihan dapat segera dilakukan dan aktivitas pendidikan dapat kembali berjalan.
“Yang kami perjuangkan adalah hak belajar anak-anak. Kami berharap pemerintah segera hadir agar sekolah ini bisa kembali berfungsi dan masa depan pendidikan siswa tidak terus tertunda,” pungkas Elmaryanti.













