Suaraindo.id— Genangan air setinggi 40 hingga 50 sentimeter menutup ruas Jalan Pesaguan–Kendawangan di sekitar kawasan industri PT Borneo Alumindo Prima (BAP), Desa Pagar Mentimun, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Minggu, 17 Mei 2026.
Banjir yang terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah Ketapang itu sempat menghambat arus lalu lintas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bahkan menurunkan personel ke lokasi untuk membantu pengendara yang melintas.
Namun, peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan dari masyarakat. Sejumlah pengguna jalan menilai genangan di kawasan itu tidak lazim terjadi, meski sebelumnya wilayah Ketapang juga kerap diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
“Saya sudah ratusan kali melintas di jalur itu. Seingat saya, tidak pernah tergenang seperti ini meskipun hujan deras. Ini baru pertama kali terjadi,” kata Erwin, 41 tahun, warga yang melintas di lokasi, Ahad, 17 Mei 2026.
Menurut Erwin, tingginya curah hujan memang tidak dapat dihindari. Namun, ia menilai munculnya genangan di kawasan yang berada dekat aktivitas industri patut menjadi perhatian.
“Kalau sebelumnya tidak pernah terjadi lalu sekarang air sampai menggenang cukup parah, tentu wajar kalau masyarakat bertanya. Bisa saja ada perubahan kondisi di sekitar kawasan itu,” ujarnya.
Warga Desa Mekar Utama tersebut menduga aktivitas pembangunan dan penimbunan lahan di sekitar kawasan industri mempengaruhi daya serap air maupun aliran drainase di lokasi.
“Sejak ada aktivitas perusahaan dan penimbunan kawasan itu, baru banjir seperti ini terjadi. Dulu saya tidak pernah menemukan jalan itu tergenang separah sekarang,” katanya.
Ia meminta pemerintah daerah dan instansi teknis turun langsung melakukan peninjauan guna memastikan penyebab banjir serta mengantisipasi dampak lebih luas terhadap kawasan permukiman di sekitar pesisir.
“Kita berharap ada pengecekan menyeluruh. Jangan sampai nanti dampaknya meluas ke desa-desa sekitar,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Pagar Mentimun, Bambang, mengatakan genangan di ruas Jalan Pesaguan–Kendawangan sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Menurut dia, kawasan tersebut memang kerap terdampak saat hujan turun dengan intensitas tinggi dalam waktu lama.
“Kalau hujan lebat cukup lama, air memang sering meluap ke badan jalan di kawasan itu. Ini sudah beberapa kali terjadi,” kata Bambang saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.
Ia menilai faktor utama banjir lebih dipengaruhi kondisi alam dan tingginya curah hujan, termasuk karakter geografis wilayah yang relatif rendah dan rawan tergenang.
“Kita harus melihat persoalan ini secara objektif. Faktor utamanya memang cuaca dan kondisi alam. Kalau hujan ekstrem turun terus-menerus, air pasti meluap. Kita tidak bisa melawan alam,” ujarnya.
Pernyataan kepala desa tersebut berbanding terbalik dengan pengakuan sejumlah pengguna jalan. Erwin misalnya, mengaku selama bertahun-tahun melintasi ruas tersebut dirinya tidak pernah mendapati banjir sebelum adanya aktivitas perusahaan di kawasan sekitar jalan poros itu.
Meski demikian, pemerintah desa berharap ada langkah antisipasi bersama agar genangan tidak terus mengganggu aktivitas masyarakat maupun pengguna jalan.
“Kami berharap ada koordinasi semua pihak supaya dampak banjir bisa diminimalisir ketika hujan besar kembali terjadi,” kata Bambang.
Di sisi lain, Manajer Humas PT BAP, Budi Mateus, mengakui banjir tersebut tidak semata-mata dipicu curah hujan tinggi. Ia menyebut aktivitas pematangan dan penimbunan lahan di kawasan terminal khusus perusahaan turut berkontribusi terhadap munculnya genangan.
“Kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. Selain faktor hujan, memang ada dampak dari aktivitas pematangan dan penimbunan lahan yang sedang berlangsung di kawasan terminal khusus,” ujar Budi.
Menurut dia, perusahaan telah menurunkan alat berat saat banjir terjadi untuk mempercepat penanganan air di lokasi terdampak.
“Sekarang genangan sudah surut. Ke depan kami akan melakukan penataan drainase setelah proses penimbunan selesai. Saat ini masih tahap pematangan lahan,” katanya.
Budi juga menyebut perusahaan telah menyelesaikan pengaspalan jembatan di sekitar lokasi sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap akses masyarakat.
“Perusahaan juga berencana membangun sistem drainase sesuai perencanaan yang telah disusun,” ucapnya.
Namun, saat ditanya mengenai alasan aktivitas penimbunan tetap berjalan ketika sistem drainase di kawasan belum tertata optimal, Budi tidak memberikan jawaban lebih lanjut.













