Kampung ProKlim Kokok Pedek Timur Raih Predikat Lestari, Fokus Kembangkan Ekowisata Mangrove Berkelanjutan

Editor: nanang author photo


SUARAINDO.ID --------
Kampung Program Kampung Iklim (ProKlim) Kokok Pedek Timur, Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, predikat ProKlim Lestari pada 2024.

‎Predikat tersebut merupakan penghargaan tertinggi Program Kampung Iklim, yang diberikan pemerintah pusat sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan masyarakat dalam menjaga lingkungan dan mengembangkan program adaptasi serta mitigasi perubahan iklim secara berkelanjutan.

‎Humas ProKlim Kokok Pdek Timur, Bagus Adi Kusuma, mengatakan capaian tersebut diraih melalui proses yang panjang.

‎Sebelum memperoleh predikat Lestari, Kampung ProKlim harus lebih dulu memenuhi berbagai persyaratan untuk naik dari kategori utama.

‎"Alhamdulillah, ProKlim Kokok Pade Timur pada tahun 2024 memperoleh predikat Lestari. Itu merupakan predikat tertinggi dari pemerintah," ujar Bagus, Sabtu 25 Juli 2026.

‎Menurutnya, salah satu syarat utama untuk meraih predikat tersebut adalah melakukan pembinaan terhadap desa maupun dusun lain, agar mampu mengembangkan Program Kampung Iklim.

‎Kokok Pedek Timur tercatat telah membina sedikitnya 10 dusun, termasuk di luar Desa Sugian hingga di luar Kecamatan Sambelia.

‎Selain keberhasilan di bidang lingkungan, Bagus menjelaskan kampung tersebut juga mengembangkan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui Kelompok Wanita Tani (KWT).

‎Kelompok tersebut mengolah hasil pertanian, terutama pisang dan mete, menjadi berbagai produk bernilai tambah.

‎Produk unggulan berupa olahan mete dari Sugian telah dipasarkan di berbagai pusat oleh-oleh, bahkan pernah dipromosikan pada sejumlah pameran berskala nasional dan internasional, seperti di Labuan Bajo, ASEAN Summit, hingga Jakarta.

‎Di sektor pariwisata, ProKlim Kokok Pedek Timur mengusung konsep ekowisata berbasis konservasi. Wisata yang dikembangkan tidak berorientasi pada komersialisasi, melainkan sebagai sarana edukasi lingkungan.

‎"Kami ingin pengunjung tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga belajar mengenal ekosistem mangrove yang ada di sini," katanya.

‎Kawasan tersebut memiliki potensi mangrove yang cukup besar dengan sekitar 17 spesies mangrove yang disebut sebagai salah satu kawasan dengan keragaman jenis mangrove yang sangat tinggi di Asia.

‎Di kawasan pesisir juga terdapat Gili Sulat dan Gili Lawang, yang merupakan kawasan konservasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan ekosistem mangrove dan padang lamun yang masih terjaga.

‎Bagus mengungkapkan, luas kawasan mangrove di daratan mencapai lebih dari 10 hektare, sedangkan kawasan mangrove di Gili Sulat dan Gili Lawang diperkirakan mencapai sekitar 600 hektare.

‎Potensi tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan program penyerapan karbon pada masa mendatang.

‎Adi menegaskan, prinsip utama pengelolaan kawasan adalah menjaga kelestarian alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, masyarakat memilih mengolah hasil alam menjadi produk jadi daripada menjual bahan mentah kepada para pembeli dari luar daerah.

‎"Banyak importir yang datang menawarkan pembelian bahan mentah, tetapi masyarakat memilih mengolahnya sendiri agar nilai tambah tetap dinikmati warga dan lapangan pekerjaan tetap tersedia," ujarnya.

‎Konsep tersebut juga menjadi bagian dari pengembangan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism). Pengelola membatasi jumlah kunjungan di beberapa titik wisata agar ekosistem tetap terjaga, sekaligus memudahkan pengelolaan sampah dan mengurangi tekanan terhadap kawasan konservasi.

‎Selain mangrove, kawasan Gili Sulat dan Gili Lawang juga menjadi habitat berbagai jenis burung langka. Karena berstatus kawasan konservasi, wilayah tersebut lebih diarahkan sebagai lokasi penelitian daripada objek wisata massal.

‎Sejumlah peneliti dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia hingga mancanegara, termasuk Jepang dan Australia, telah melakukan penelitian di kawasan tersebut.

‎Adi menambahkan, kondisi lingkungan di kawasan ProKlim Kokok Pedek Timur hingga kini masih terjaga dengan baik.

‎Berdasarkan hasil pemantauan menggunakan citra satelit yang dilakukan tim peneliti, luas tutupan hutan mangrove menunjukkan tren peningkatan sekitar satu persen dalam beberapa tahun terakhir.

‎"Walaupun peningkatannya hanya sekitar satu persen, bagi kami itu merupakan capaian yang sangat baik karena menunjukkan kondisi hutan terus bertambah dan tetap terjaga," pungkasnya.

Share:
Komentar

Berita Terkini