Musim Buah Picu Lonjakan Sampah 20 Persen di Pontianak, DLH Tambah Armada dan Intensifkan Pengangkutan

Editor: Admin author photo

 

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono saat meninjau tumpukan sampah di TPA Batulayang Pontianak Utara.
Suaraindo.id
Musim panen berbagai jenis buah yang tengah berlangsung di Kota Pontianak membawa dampak terhadap meningkatnya volume sampah. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak mencatat timbulan sampah mengalami lonjakan hingga sekitar 20 persen dalam beberapa waktu terakhir, terutama didominasi sampah organik berupa kulit dan sisa buah.

Kondisi tersebut membuat petugas kebersihan harus bekerja lebih keras untuk menjaga kebersihan kota dan mencegah terjadinya penumpukan sampah di sejumlah titik. Pemerintah Kota Pontianak pun mengambil berbagai langkah antisipasi, mulai dari penambahan armada angkutan hingga pemberlakuan lembur bagi petugas lapangan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Usmulyono, mengatakan peningkatan volume sampah tahun ini terbilang cukup signifikan dibandingkan kondisi normal. Melimpahnya hasil panen buah di berbagai wilayah menyebabkan produksi sampah organik meningkat tajam dan berdampak langsung pada sistem pengangkutan sampah.

“Tahun ini luar biasa. Semua buah turun pada bulan-bulan ini, sehingga kami mendapat limpahan pekerjaan. Paling tidak sekarang ada peningkatan sekitar 20 persen,” ujarnya, Sabtu (11/7/2026).

Menurut Usmulyono, lonjakan sampah tersebut tidak hanya meningkatkan volume angkutan harian, tetapi juga menuntut percepatan penanganan agar sampah tidak menumpuk terlalu lama di tempat penampungan sementara yang berpotensi menimbulkan bau dan mengganggu kenyamanan masyarakat.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, DLH terpaksa meningkatkan jumlah ritasi pengangkutan, menambah armada operasional, serta memperpanjang jam kerja petugas kebersihan. Bahkan pada beberapa lokasi yang mengalami penumpukan cukup besar, proses penanganan harus dibantu menggunakan alat berat karena tenaga manual tidak lagi mencukupi.

“Kami terpaksa menambah armada angkutan, jumlah ritasi, dan petugas kami lemburkan. Kadang-kadang di satu daerah, tenaga manusia tidak cukup lagi, sehingga kami sudah menggunakan alat berat,” katanya.

Di tengah lonjakan volume sampah tersebut, persoalan pengelolaan sampah masih menjadi tantangan besar bagi Kota Pontianak. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Tahun 2025, total timbulan sampah di Kota Pontianak mencapai 480,213 ton per hari.

Dari jumlah tersebut, tingkat pengurangan sampah baru mencapai 18,87 persen. Artinya, sekitar 377,83 ton sampah masih harus diangkut dan diproses setiap hari ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Untuk mengurangi beban TPA, Pemerintah Kota Pontianak terus mengembangkan sistem pengelolaan sampah berbasis TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang telah tersedia di setiap kecamatan. Melalui sistem tersebut, sampah yang masuk dipilah dan diolah terlebih dahulu sehingga hanya residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan lagi yang dibuang ke TPA.

“Wujudnya TPS 3R. Jadi sampah yang masuk kita kurangi, residunya saja yang kita buang,” jelas Usmulyono.

Ia menilai optimalisasi TPS 3R menjadi salah satu solusi penting dalam mengurangi volume sampah yang harus ditangani setiap hari sekaligus memperpanjang usia operasional TPA. Jika sistem ini berjalan maksimal, maka beban armada pengangkut maupun petugas kebersihan dapat ditekan secara signifikan.

Namun demikian, Usmulyono menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Sesuai ketentuan yang berlaku, tanggung jawab pengelolaan sampah juga berada pada pihak yang menghasilkan sampah tersebut.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk mulai membangun kebiasaan memilah dan mengolah sampah dari rumah tangga. Sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat disalurkan melalui bank sampah atau kelompok pengelola sampah di lingkungan masing-masing.

Menurutnya, perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya akan memberikan dampak besar terhadap keberhasilan program pengurangan sampah di Kota Pontianak.

“Pengolahan sampah harus dimulai dari rumah dan di tingkat wilayah. Kalau residunya saja yang dibuang, beban pengangkutan dan TPA akan jauh berkurang,” pungkasnya.

DLH Kota Pontianak optimistis, dengan dukungan masyarakat dan penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis 3R, target pengurangan sampah dapat terus ditingkatkan. Selain menjaga kebersihan lingkungan, langkah tersebut juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan Kota Pontianak yang lebih sehat, nyaman, dan berkelanjutan di masa depan.

Share:
Komentar

Berita Terkini