Produk KWT Bangkit Bersama Sugian Tembus Pasar Malaysia, Tolak Ekspor Bahan Mentah

Editor: nanang author photo


SUARAINDO.ID -------
Kelompok Wanita Tani (KWT) Bangkit Bersama Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, menunjukkan perkembangan sebagai pelaku usaha pengolahan hasil pertanian yang mampu menembus pasar nasional hingga internasional.

‎Produk unggulannya berupa mete olahan dan keripik pisang kini telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan diekspor ke Johor Bahru, Malaysia.

‎Ketua KWT Bangkit Bersama, Hadiatun, mengatakan kelompok tersebut berdiri sejak 2016 dan beranggotakan 10 perempuan.

‎Anggota kelompok memiliki pembagian tugas masing-masing, mulai dari pengolahan bahan baku hingga proses produksi yang melibatkan empat orang.

‎"Selama berdiri, pemasaran produk kami sudah menjangkau pasar lokal maupun nasional. Untuk mete Sugian dan keripik pisang bahkan sudah sampai ke Malaysia, tepatnya di Johor Bahru.

‎Di NTB, Bali, dan Jakarta kami juga sudah memiliki reseller, meski belum bersifat tetap," ujar Hadiatun.

‎Produk mete Sugian memiliki pasar yang cukup luas karena dinilai memiliki kandungan gizi yang tinggi dan diminati berbagai kalangan.

‎Sementara keripik pisang menjadi produk yang terus diproduksi setiap hari karena harganya terjangkau dan dapat dikonsumsi oleh semua usia.

‎Menurutnya, aktivitas produksi tersebut turut memberikan manfaat ekonomi dengan menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar.

‎Meski demikian, Hadiatun mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian, terutama keterbatasan peralatan produksi berskala besar dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM).

‎"Kami belum memiliki mesin produksi berkapasitas besar sehingga pekerjaan masih banyak mengandalkan tenaga manusia. Selain itu, SDM di bidang pemasaran dan marketing juga masih perlu ditingkatkan," katanya.

‎Bahan baku mete diperoleh dari kebun masyarakat di Desa Sugian serta lahan kemitraan dan hutan kemasyarakatan (HKm). Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, KWT Bangkit Bersama juga menjalin kerja sama dengan petani di luar Kecamatan Sambelia, seperti wilayah Bayan, Kabupaten Lombok Utara, serta sejumlah desa lainnya.

‎Namun, kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan tersendiri. Harga mete gelondongan yang sebelumnya berkisar Rp15 ribu per kilogram kini mencapai sekitar Rp25 ribu per kilogram.

‎"Kalau harga bahan baku terus naik hingga Rp30 ribu per kilogram, tentu harga jual produk juga akan kami sesuaikan," jelasnya.

‎Saat ini, kapasitas produksi mencapai sekitar dua hingga tiga kuintal per bulan dengan rata-rata menghasilkan sekitar 100 kemasan setiap hari. Produk mete olahan telah mengantongi izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sedangkan keripik pisang telah bersertifikat halal.

‎Menurut Hadiatun, legalitas tersebut membuka peluang pasar yang lebih luas. Namun, keterbatasan modal membuat kelompok belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar.

‎"Permintaan sebenarnya cukup banyak, tetapi kami masih terbatas dari sisi permodalan sehingga belum bisa memenuhi semuanya," ungkapnya.

‎Untuk pasar ekspor, pengiriman ke Malaysia dilakukan sebanyak dua kali dengan volume sekitar 500 kemasan setiap pengiriman. Sementara di dalam negeri, produk KWT Bangkit Bersama telah dipasarkan di lebih dari 20 titik retail modern di NTB, termasuk kawasan Senggigi dan Sembalun.

‎Meski demikian, kelompok tetap selektif memilih mitra usaha, terutama terkait sistem pembayaran.

‎"Kami memilih retail yang sistem pembayarannya jelas dan sesuai kesepakatan agar usaha tetap sehat," katanya, dabtu 25 Juli 2026.

‎Hadiatun juga mengungkapkan bahwa kelompoknya pernah menerima tawaran ekspor mete ke China dalam jumlah besar, mencapai sekitar 10 ton per minggu. Namun, permintaan tersebut ditolak karena hanya menginginkan bahan baku mentah, bukan produk olahan.

‎Menurutnya, keputusan tersebut diambil karena pengolahan mete di tingkat lokal memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.

‎"Kalau kami hanya menjual bahan mentah memang tetap mendapat keuntungan, tetapi dampaknya terhadap masyarakat kecil sangat sedikit. Karena itu kami memilih tetap mengolah sendiri agar manfaat ekonominya dirasakan lebih banyak warga," tegasnya.

‎Ke depan, KWT Bangkit Bersama berharap produk olahan Desa Sugian dapat menjangkau pasar yang lebih luas sehingga mampu meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Kelompok tersebut juga menyambut baik peluang kerja sama melalui Koperasi Merah Putih selama memberikan manfaat bagi pengembangan jaringan pemasaran dan pemberdayaan UMKM lokal.

Share:
Komentar

Berita Terkini