Karhutla Melawi Kembali Muncul, 857,85 Hektare Lahan Terdampak Sepanjang 2026

Editor: Admin author photo

Tim BPBD bersiap menuju lokasi karhutla. 
Suaraindo.id – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membayangi Kabupaten Melawi. Di tengah cuaca panas dan kondisi lahan yang semakin kering, titik api kembali bermunculan di sejumlah wilayah dan memaksa petugas penanggulangan bencana meningkatkan kewaspadaan.

Pada Selasa (11/8/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Melawi bergerak menindaklanjuti laporan munculnya kembali titik api di Desa Nusa Kenyikap, Kecamatan Belimbing.

Lokasi tersebut sebelumnya telah berhasil dipadamkan. Namun, api kembali muncul sehingga petugas harus turun langsung untuk memastikan kondisi di lapangan sekaligus melakukan penanganan agar kebakaran tidak kembali meluas.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Kabid Darlog) BPBD Kabupaten Melawi, Rahmad Mauludin, mengatakan pihaknya langsung mengerahkan personel setelah menerima informasi dari masyarakat.

“Hari ini kita mendapatkan informasi terkait adanya titik api di wilayah Desa Nusa Kenyikap, Kecamatan Belimbing, yang sebelumnya sudah padam. Tim segera kita arahkan ke lapangan untuk melakukan penanganan,” ujar Rahmad saat dikonfirmasi Suara Kalbar.

Selain Nusa Kenyikap, karhutla juga dilaporkan terjadi di Desa Laman Bukit, Kecamatan Belimbing. Munculnya kebakaran di sejumlah lokasi membuat petugas harus bekerja ekstra untuk memastikan api tidak berkembang dan menjalar ke kawasan lain.

Penanganan karhutla di Melawi menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Jarak lokasi yang jauh, medan yang sulit dijangkau, keterbatasan sumber air hingga sarana dan prasarana menjadi tantangan bagi petugas.

Rahmad mengatakan kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar.

“Kendala kita dalam penanganan karhutla saat ini, akses lokasi karhutla yang jauh dan sulit, kemudian sumber air, serta sapras yang kurang,” ungkapnya.

Kondisi lahan yang kering juga membuat petugas harus memastikan api dan bara benar-benar padam. Sebab, api yang terlihat telah berhasil dikendalikan masih berpotensi kembali menyala ketika terdapat bara yang tertinggal di dalam lahan.

Karena itu, kecepatan memperoleh informasi menjadi salah satu faktor penting dalam penanganan karhutla. Laporan masyarakat yang diterima sejak awal memungkinkan petugas segera bergerak sebelum api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Ancaman karhutla di Melawi sepanjang 2026 terbilang cukup serius. Berdasarkan rekapitulasi BPBD Kabupaten Melawi, sejak Januari hingga 9 Agustus 2026, total luasan lahan terdampak kebakaran mencapai 857,85 hektare.

Kejadian kebakaran tercatat meningkat memasuki periode Juli dan Agustus.

Pada 31 Juli 2026, kebakaran di wilayah Kecamatan Ella Hilir tercatat mencapai sekitar 150 hektare.

Kemudian pada 4 Agustus, kebakaran di Desa Nusa Kenyikap, Kecamatan Belimbing, mencapai sekitar 135 hektare.

Sehari berselang, 5 Agustus, kebakaran kembali terjadi di Desa Tebing Karangan, Kecamatan Nanga Pinoh, dengan luasan sekitar 55 hektare. Pada hari yang sama, kebakaran juga terjadi di Desa Batu Ampar, Kecamatan Belimbing, dengan luasan sekitar 7 hektare.

Selanjutnya, kebakaran di Bukit Condong pada 6 Agustus tercatat sekitar 10 hektare.

Pada 7 Agustus, kebakaran di Desa Nanga Kayan bahkan mencapai sekitar 150 hektare.

Sementara pada 8 Agustus, BPBD kembali mencatat sejumlah wilayah yang terdampak, di antaranya Desa Pelinggang, Kecamatan Pinoh Selatan; Desa Kebebu, Kecamatan Nanga Pinoh; Desa Beloyang, Kecamatan Belimbing Hulu; Desa Sungai Raya, Kecamatan Pinoh Utara; Desa Sidomulyo, Kecamatan Nanga Pinoh; serta Desa Bayur Raya, Kecamatan Pinoh Selatan.

Rahmad menegaskan angka 857,85 hektare tersebut merupakan data berdasarkan laporan yang telah diterima dan direkap oleh BPBD.

Menurutnya, luasan sebenarnya berpotensi lebih besar karena masih terdapat kejadian kebakaran yang belum dilaporkan kepada petugas.

“Ini data yang laporan masuk. Yang tidak melapor juga banyak,” ungkap Rahmad.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya partisipasi masyarakat dalam memberikan informasi mengenai keberadaan titik api. Terlebih, sejumlah lokasi karhutla berada jauh dari pusat permukiman dengan akses yang cukup sulit.

BPBD Melawi mengingatkan masyarakat agar segera melaporkan apabila menemukan kepulan asap maupun titik api di sekitar lahan, perkebunan atau kawasan permukiman.

Laporan sejak dini dinilai sangat membantu petugas dalam melakukan pemadaman sebelum api meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.

Masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan selama kondisi cuaca panas dan lahan kering. Aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan tidak meninggalkan sumber api dalam kondisi masih menyala.

Di tengah keterbatasan akses, sumber air dan sarana prasarana, petugas BPBD Melawi terus bergerak menangani setiap laporan yang masuk.

Karhutla kini bukan lagi sekadar persoalan kepulan asap. Dengan luas lahan terdampak mencapai 857,85 hektare hingga awal Agustus 2026, pencegahan, pelaporan cepat dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci untuk mencegah api kembali meluas di Kabupaten Melawi.[SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini