Kualitas Udara Memburuk, Ayu Nur Suri Minta Wali Kota Palembang Usulkan Pembelajaran Daring

Editor: Redaksi author photo


Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Palembang sekaligus Anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan, Ayu Nur Suri, S.E., M.M (Dok)

SuaraIndo.Id - Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Palembang sekaligus Anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan, Ayu Nur Suri, S.E., M.M., meminta Pemerintah Kota Palembang mengambil langkah strategis menyikapi memburuknya kualitas udara akibat kabut asap. 

Salah satu opsi yang dinilai perlu disiapkan ialah penerapan pembelajaran daring secara kondisional bagi siswa, khususnya jenjang SD dan SMP.

Ayu mengatakan, kondisi udara yang tidak sehat berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama anak-anak yang setiap hari beraktivitas di lingkungan sekolah.

Menurutnya, pemerintah tidak perlu menunggu hingga dampak kesehatan muncul untuk mengambil tindakan.

Pemantauan kondisi udara harus menjadi dasar dalam menentukan apakah kegiatan belajar tatap muka tetap dilaksanakan atau dialihkan sementara ke sistem daring.

“Kalau kualitas udara di Palembang semakin memburuk, saya meminta Wali Kota segera mengambil langkah strategis. Salah satunya dengan menyiapkan sistem pembelajaran daring bagi siswa, khususnya tingkat SD dan SMP,” ujar Ayu dalam keterangannya, Rabu (26/8/2026).

Ia menegaskan, pembelajaran jarak jauh tidak berarti menghentikan proses pendidikan. Sistem tersebut dapat diterapkan sementara ketika kondisi lingkungan tidak memungkinkan kegiatan belajar berlangsung secara normal.

“Pembelajaran daring bukan berarti menghentikan pendidikan. Proses belajar tetap berjalan, hanya sistemnya yang disesuaikan dengan kondisi. Kalau kualitas udara sudah membaik, pembelajaran tatap muka dapat kembali dilaksanakan,” katanya.

Ayu juga meminta Pemkot Palembang menggunakan data Particulate Matter (PM) sebagai salah satu indikator dalam memantau kondisi udara. 

PM merupakan ukuran konsentrasi partikel-partikel kecil yang berada di udara, termasuk PM10 dan PM2.5, yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

Menurutnya, data tersebut penting agar kebijakan yang diambil pemerintah tidak sekadar berdasarkan kondisi yang terlihat, tetapi memiliki dasar pengukuran yang jelas.

“Keputusan untuk menerapkan pembelajaran daring harus melihat hasil pemantauan kualitas udara.

 Jangan sampai kebijakan baru diambil setelah kondisi semakin parah atau sudah ada anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan,” tegasnya.

Ia meminta Pemerintah Kota Palembang memperkuat koordinasi dengan BMKG, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan serta instansi terkait untuk melakukan pemantauan kualitas udara secara berkala.

Hasil pemantauan tersebut selanjutnya dapat menjadi acuan bagi sekolah dalam menentukan kegiatan pembelajaran.

“Penerapan daring dapat dilakukan secara kondisional dengan melihat pantauan situasi udara akibat kabut asap.

 Kalau kondisi asap makin memburuk dan kualitas udara sudah tidak mendukung aktivitas di luar ruangan, sekolah bisa dialihkan ke pembelajaran daring. 

Sebaliknya, jika kondisi kembali membaik dan dinyatakan aman, pembelajaran tatap muka dapat berjalan seperti biasa,” jelasnya.

Selain menyiapkan opsi pembelajaran daring, Ayu mendorong pemerintah meningkatkan sosialisasi kepada sekolah, siswa dan orang tua mengenai langkah perlindungan selama kualitas udara memburuk.

Penggunaan masker, mengurangi aktivitas di luar ruangan serta memperhatikan kondisi kesehatan menjadi langkah pencegahan yang perlu dilakukan. 

Namun, menurut Ayu, langkah tersebut harus disertai kebijakan konkret apabila pencemaran udara semakin mengkhawatirkan.

Ayu berharap Pemkot Palembang dapat segera memiliki mekanisme yang jelas dalam menghadapi kondisi kabut asap, termasuk kriteria kapan pembelajaran tatap muka perlu dihentikan sementara dan kapan dapat kembali normal.

Baginya, kebijakan pendidikan di tengah kondisi lingkungan yang tidak sehat harus tetap menjaga keberlangsungan proses belajar sekaligus memastikan keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik.

“Pendidikan tetap penting, tetapi kesehatan dan keselamatan siswa juga tidak kalah penting. Kita ingin proses belajar tetap berjalan tanpa mengorbankan kesehatan anak-anak,” tandas Ayu.**

Share:
Komentar

Berita Terkini