Suaraindo.id – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat terus mendorong masyarakat untuk mengedepankan metode pembukaan lahan tanpa membakar sebagai langkah preventif dalam menekan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).Keterangan Foto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), Adi Yani saat mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan membakar. Kamis (13/8/2026).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Kalimantan Barat Adi Yani mengatakan, salah satu tantangan yang masih dihadapi dalam pengendalian karhutla adalah kebiasaan sebagian masyarakat menggunakan api saat membuka lahan.
Menurutnya, kebiasaan tersebut tidak terlepas dari pemahaman yang berkembang secara turun-temurun bahwa hasil pembakaran sisa vegetasi dapat menyuburkan tanah dan berfungsi sebagai pupuk.
“Pertama mereka masih beranggapan kalau dibakar, hasil bakaran ini merupakan pupuk,” kata Adi Yani, Kamis (13/8/2026).
Namun, Adi menegaskan, penggunaan api dalam pembukaan lahan memiliki risiko tinggi apabila tidak dikendalikan dengan baik. Terlebih dalam kondisi cuaca kering, api dapat dengan cepat menjalar dan memicu kebakaran yang lebih luas.
Karena itu, pemerintah tidak hanya mengandalkan upaya pemadaman ketika kebakaran terjadi, tetapi juga memperkuat pencegahan melalui edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai alternatif pembukaan lahan yang lebih aman.
Adi menjelaskan, pemerintah daerah telah memiliki regulasi yang mengatur pembukaan lahan dengan tetap mempertimbangkan kearifan lokal masyarakat. Kendati demikian, setiap aktivitas pembukaan lahan tetap harus memperhatikan ketentuan yang berlaku serta aspek keselamatan dan lingkungan.
Menurutnya, perubahan kebiasaan masyarakat dalam membuka lahan membutuhkan proses dan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, aparat, masyarakat hingga media dinilai memiliki peran penting dalam membangun kesadaran bersama mengenai bahaya karhutla.
Edukasi secara konsisten diharapkan dapat mendorong masyarakat semakin memahami pentingnya mengurangi penggunaan api dan mulai menerapkan metode pembukaan lahan tanpa bakar.
Di sisi lain, Adi meminta media massa tidak hanya memberitakan kejadian kebakaran, tetapi juga mengangkat berbagai upaya pencegahan yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat.
Menurutnya, pemberitaan mengenai karhutla perlu memberikan gambaran yang berimbang, termasuk menampilkan praktik positif masyarakat yang telah berhasil membuka lahan tanpa menggunakan api.
“Jangan hanya menyampaikan berita tentang berapa kebakaran kita. Ada upaya edukasi kepada masyarakat, masyarakat kita membuka lahan juga tidak membakar,” ujarnya.
Ia menilai pemberitaan mengenai praktik baik tersebut dapat menjadi bagian dari edukasi publik. Kisah keberhasilan masyarakat dalam menerapkan pembukaan lahan tanpa bakar juga dapat menjadi contoh yang mendorong masyarakat di wilayah lain melakukan hal serupa.
Selain untuk edukasi di dalam negeri, informasi mengenai berbagai langkah pencegahan karhutla juga dinilai penting untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap kepada masyarakat internasional bahwa penanganan karhutla di Indonesia tidak semata-mata dilakukan setelah kebakaran terjadi.
“Selain mengedukasi masyarakat, pihak luar jangan hanya terkesan kita membakar saja dan memadamkan. Ada upaya,” pungkasnya.
Pemprov Kalbar berharap sinergi antara pemerintah, masyarakat, aparat dan media dapat terus diperkuat dalam menghadapi ancaman karhutla. Upaya pencegahan melalui pembukaan lahan tanpa bakar diharapkan tidak hanya menekan risiko kebakaran, tetapi juga membantu menjaga kelestarian lingkungan serta kualitas udara di Kalimantan Barat.[SK]