Titik Panas Kalbar Turun Jadi 28, Norsan Ingatkan Warga Jangan Lengah Hadapi Puncak Kemarau

Editor: Admin author photo

Gubernur Kalbar, Ria Norsan mendampingi Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, meninjau langsung lokasi karhutla di Desa Rasau Jaya 3, Kabupaten Kubu Raya, Senin (24/8/2026).
Suaraindo.id – Pemerintah pusat dan daerah bersama TNI-Polri serta seluruh unsur terkait terus memperkuat sinergi untuk menekan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.

Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mendampingi Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni meninjau langsung lokasi karhutla di Desa Rasau Jaya 3, Kabupaten Kubu Raya, Senin (24/8/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan karhutla berjalan optimal sekaligus melihat efektivitas operasi pemadaman melalui jalur darat dan udara di tengah kondisi kemarau yang semakin kering.

Usai meninjau lokasi, Raja Juli bersama Ria Norsan mengikuti rapat koordinasi penanganan karhutla di Kantor Daops Manggala Agni. Rapat tersebut melibatkan Forkopimda Kalbar, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, BNPB, BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, pemadam kebakaran, Brigade Pengendalian Karhutla UPT KPH, PMI hingga Masyarakat Peduli Api.

Ria Norsan menegaskan penanganan karhutla tidak mungkin dilakukan oleh satu instansi saja. Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan koordinasi dan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah hingga aparat di tingkat kecamatan, desa dan kelurahan.

“Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak membakar lahan pada saat musim kemarau panjang ini. Kondisi cuaca sekarang panas tinggi, jadi jangan membakar lahan dulu,” tegas Norsan.

Ia juga mengingatkan masyarakat yang melakukan pembakaran lahan untuk tetap mematuhi ketentuan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2022. Jika pembakaran dilakukan sesuai ketentuan, masyarakat wajib membuat sekat serta memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.

Menurut Norsan, upaya pencegahan harus diperkuat melalui komunikasi lintas sektor, pertukaran data, patroli terpadu, verifikasi lapangan hingga pemadaman sedini mungkin.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah titik api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas, terlebih kondisi lahan dan vegetasi saat ini relatif kering.

Tidak hanya masyarakat, perusahaan yang bergerak di sektor berbasis lahan juga diminta mengambil tanggung jawab dalam pencegahan dan pengendalian karhutla.

Perusahaan diminta menyiapkan sumber daya manusia serta sarana dan prasarana pemadaman, menjaga wilayah konsesi, mengelola tata air khususnya di kawasan gambut, serta membantu penanganan kebakaran di sekitar wilayah usaha sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Kunjungan Menteri Kehutanan Republik Indonesia ke Kalimantan Barat saya harapkan dapat membangun komitmen, sinergi, dan langkah konkret antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, TNI dan Polri, dunia usaha, serta seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat pencegahan dan penanganan karhutla di Kalimantan Barat,” kata Norsan.

Dalam kunjungan tersebut, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memaparkan perkembangan titik panas berdasarkan Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi).

Data menunjukkan terjadi pergeseran sebaran titik panas dari wilayah Kalimantan menuju Sumatera. Di Sumatera tercatat 127 titik panas di Sumatera Selatan, 54 titik di Riau dan 40 titik di Jambi.

Sementara di Kalimantan Barat, jumlah titik panas turun menjadi 28 titik. Sebarannya berada di Kabupaten Ketapang sebanyak 16 titik, Melawi 11 titik dan Kubu Raya satu titik.

Penurunan tersebut tidak terlepas dari penanganan bersama yang dilakukan TNI-Polri, BNPB, BPBD, Manggala Agni, BMKG, Masyarakat Peduli Api serta unsur terkait lainnya.

Raja Juli mengapresiasi kerja keras seluruh personel yang terlibat dalam penanganan karhutla, baik melalui operasi darat maupun udara.

Operasi udara disebut telah dilakukan sekitar 200 kali untuk membantu mengendalikan kebakaran di sejumlah lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Meski titik panas menurun, Raja Juli mengingatkan ancaman karhutla belum sepenuhnya berakhir. Sebab, kondisi di lapangan tidak selalu dapat digambarkan hanya berdasarkan jumlah hotspot.

Hal tersebut terlihat saat peninjauan di Rasau Jaya 3. Api di permukaan memang telah berhasil dipadamkan, namun asap masih keluar dari dalam tanah gambut.

“Meskipun api mulai padam, asap masih menyelimuti wilayah karena pembakaran tidak sempurna di lahan gambut,” ujarnya.

Raja Juli menjelaskan karakteristik gambut membuat proses pemadaman jauh lebih sulit. Api dapat merambat di bawah permukaan tanah dan menghasilkan asap dalam jumlah besar.

Karena itu, masyarakat maupun korporasi diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, terutama ketika kondisi cuaca sangat kering.

“Jangankan membakar lahan, puntung rokok atau obat nyamuk pun bisa berakibat fatal terhadap karhutla,” tegasnya.

Raja Juli juga meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan menghadapi kondisi cuaca yang semakin kering. Pemerintah mengingatkan potensi El Nino yang diprediksi mencapai puncaknya pada September.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat percikan api sekecil apa pun berpotensi memicu kebakaran, khususnya pada lahan gambut dan kawasan dengan vegetasi yang mengering.

“Masyarakat sangat diimbau untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar selama kondisi cuaca kering ini. Pemerintah pusat maupun daerah menghargai kearifan lokal, namun di kondisi yang sangat kering ini, percikan api sekecil apa pun sangat berbahaya,” katanya.

Menteri Kehutanan juga menegaskan pemerintah tidak akan melakukan tebang pilih dalam penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan.

“Pak Presiden sudah memerintahkan penegakan hukum tidak boleh pilih kasih. Siapa pun yang melakukan tindak pidana kehutanan dan lingkungan hidup akan kita tindak tegas,” tegas Raja Juli.

Sementara itu, Ria Norsan menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, Forkopimda dan seluruh tim gabungan yang terus bekerja menangani karhutla di Kalbar.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor telah menunjukkan hasil dengan menekan jumlah titik panas secara signifikan.

“Sinergi TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, masyarakat, dan Brigade KPH berhasil menekan titik api di Kalbar dari sebelumnya lebih dari 2.000 titik menjadi 28 titik,” kata Norsan.

Namun, ia meminta seluruh pihak tidak lengah hanya karena jumlah titik panas telah menurun.

“Kami mengingatkan agar tidak lengah karena puncak El Nino diprediksi BMKG terjadi pada September,” ujarnya.

Untuk memperkuat penanganan karhutla, pemerintah meningkatkan operasi udara di Kalimantan Barat.

Sebanyak tujuh helikopter water bombing dikerahkan untuk mendukung pemadaman, terutama di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Selain itu, dua helikopter patroli digunakan untuk memantau perkembangan karhutla di sejumlah wilayah.

Pemerintah juga mengoperasikan satu unit pesawat untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Ria Norsan mengapresiasi seluruh petugas yang terus berjibaku di lapangan menghadapi panas, asap, medan sulit dan berbagai risiko selama proses pemadaman.

Ia menegaskan dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan hutan dan ekosistem gambut. Kabut asap juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat, pendidikan, perekonomian, transportasi hingga aktivitas sosial.

“Karhutla tidak boleh dipandang sebagai persoalan sektoral semata, melainkan sebagai persoalan bersama yang memerlukan kesiapsiagaan dan kolaborasi seluruh pihak,” tegasnya.

Sebagai bagian dari penguatan penanganan karhutla, Kementerian Kehutanan juga akan menugaskan 5.000 aparatur sipil negara (ASN) untuk mendukung penanganan karhutla di enam provinsi.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.200 ASN akan ditempatkan di tiga provinsi di Kalimantan. Khusus Kalimantan Barat, sebanyak 700 ASN akan diperbantukan untuk memperkuat penanganan karhutla.

“Saya menugaskan eselon I untuk berkantor di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi,” kata Raja Juli.

Ia memastikan pemantauan dan koordinasi akan terus dilakukan bersama pemerintah daerah, TNI-Polri, Manggala Agni, PMI, KPH serta masyarakat.

Raja Juli menegaskan seluruh unsur harus bergerak bersama agar kebakaran tidak kembali meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar bagi masyarakat.

“Bersama-sama kita atasi karhutla yang pasti merugikan masyarakat,” pungkasnya.

Ria Norsan pun kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, khususnya selama musim kemarau masih berlangsung.

“Yang paling penting sekarang adalah kewaspadaan. Jangan sampai titik api yang sudah berhasil kita tekan kembali meningkat karena kelalaian,” pungkasnya.[SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini