Sekilas Info

Demostran

3 Tewas Menyusul Penangkapan Tokoh Islam di Pakistan

Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan pendukung Tehreek-e-Labbaik Pakistan (TLP) selama protes di Lahore pada 12 April 2021, setelah penangkapan pemimpin mereka, yang menyerukan pengusiran duta besar Perancis. (Foto: AFP/Arif Ali)

Suaraindo.id---Dua demonstran dan seorang polisi tewas, Selasa (13/4), akibat bentrokan kekerasan antara sebuah kelompok Islamis dan polisi, beberapa jam setelah pihak berwenang menangkap ketua sebuah partai Islam di kota Lahore, Pakistan Timur.

Polisi itu tewas dalam bentrokan semalam dengan para pendukung Saad Rizvi, Ketua Tehreek-e-Labiak Pakistan yang ditangkap pada Senin (12/4), kata seorang pejabat tinggi kepolisian bernama Ghulam Mohammad Dogar. Sepuluh polisi juga terluka dalam bentrokan serupa di kota Shahadra, dekat Lahore.

Kekerasan dimulai pada Senin (12/4) setelah polisi menangkap Rizvi karena mengancam akan menggelar aksi protes jika pemerintah tidak mengusir duta besar Perancis terkait penggambaran Nabi Muhammad.

Menurut Dogar, penangkapan itu bertujuan untuk menjaga hukum dan ketertiban. Namun penahanan Rizvi dengan cepat memicu protes kekerasan oleh kelompok Islamis di berbagai kota. Para pengunjuk rasa memblokir banyak jalan-jalan di beberapa kota.

Bentrokan mematikan itu terjadi dua hari setelah Rizvi dalam sebuah pernyataan meminta pemerintah Perdana Menteri Imran Khan menghormati apa yang menurut Rizvi sebagai komitmen Khan yang dibuat pada Februari kepada partainya untuk mengusir utusan Perancis sebelum 20 April terkait publikasi penggambaran Nabi Muhammad di Perancis.

Namun, pemerintah menyatakan bahwa mereka hanya berkomitmen untuk membahas masalah tersebut di DPR.

Reaksi pendukung Rizvi terhadap penangkapannya begitu cepat sehingga polisi tidak dapat mencegah aksi pemblokiran jalan di Lahore. Ribuan orang terjebak di dalam kendaraan mereka.

Bentrokan pada Senin awalnya meletus di Lahore, ibu kota Provinsi Punjab di Pakistan Timur.

Pendukung Rizvi kemudian bentrok dengan polisi di kota pelabuhan Karachi dan mereka terus berkumpul di pinggiran ibu kota Islamabad, mengganggu lalu lintas dan penduduk setempat.

Rizvi muncul sebagai pemimpin Partai Tehreek-e-Labiak Pakistan, November lalu, setelah kematian mendadak ayahnya, Khadim Hussein Rizvi.

Para pendukungnya sebelumnya telah mengadakan aksi kekerasan di Pakistan untuk menekan pemerintah agar tidak mencabut undang-undang penistaan agama yang kontroversial di negara itu.

Pihak Rizvi ingin pemerintah memboikot produk Perancis dan mengusir duta besar Perancis berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani pemerintah dengan pihak Rizvi pada Februari lalu.

Tehreek-e-Labiak dan partai-partai Islam lainnya mengecam Presiden Perancis Emmanuel Macron sejak Oktober tahun lalu. Menurut mereka, Macron mencoba membela penggambaran Nabi Muhammad dalam wujud karikatur sebagai kebebasan berekspresi.

Komentar Macron tersebut muncul setelah seorang pemuda Muslim memenggal kepala seorang guru sekolah Perancis yang telah menunjukkan karikatur Nabi Muhammad itu di kelas.

Gambar-gambar itu diterbitkan ulang oleh majalah satir Charlie Hebdo untuk menandai pembukaan persidangan atas serangan mematikan tahun 2015 terkait publikasi karikatur-karikatur aslinya. Tindakan itu membuat marah banyak Muslim di Pakistan dan di tempat-tempat lain yang percaya bahwa penggambaran Nabi Muhammad merupakan tindakan menghujat Islam. [ab/uh]

Penulis: VOA
Editor: Tim Redaksi

Baca Juga