Pertumbuhan Ekonomi Kalbar Masih Fluktuatif, Satker Diminta Percepat Belanja 2022

  • Bagikan
Pertumbuhan Ekonomi Kakanwil DJPb Kalimantan Barat
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kalbar, Imik Eko Putro, (suaraindo.id/arsip)

Suaraindo.id – Secara umum laju pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat sejak 2019 hingga 2022 masih tergolong fluktuatif, seluruh satuan kerja pemerintah diminta mempercepat belanja untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

“Cukup stabil di tahun 2019 kemudian mengalami penurunan di tahun 2020 akibat pandemi dan kembali pulih di tahun 2021,” jelas Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kalbar, Imik Eko Putro, Rabu (25/5/2022) di kantornya.

Di awal tahun 2022 ini, kata Imik, kondisi pandemi Covid-19 di Kalbar sudah cukup terkendali dimana berdasarkan data Dinas Kesehatan Kalbar, pada resiko kenaikan kasus Covid, seluruh wilayah di Kalbar sudah berada di risiko rendah, selain itu jumlah pasien sembuh jauh lebih tinggi dari pasien terkonfirmasi.

“Salah satu rekomendasi kebijakan kami adalah satker diharapkan untuk segera melakukan akselerasi belanja di sisa periode trimulan kedua, dan semakin lebih memerhatikan periode revisi sehingga proses pelaksanaan anggaran tidak terhambat,” paparnya.

Dalam menopang pertumbuhan ekonomi, Imik mengatakan optimisme masyarakat meningkat pada April 2022 didorong oleh membaiknya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini dengan adanya penurunan kasus Covid-19, pelonggaran PPKM, dan kebijakan mudik 2022.

“Mobilitas masyarakat terus meningkat dan aktivitas konsumsi masyarakat juga meningkat cukup signifikan, Hal ini disebabkan oleh meningkatnya belanja kebutuhan pokok pada bulan Ramadan dan momen Idul Fitri yang lalu,” tukasnya.

Berdasarkan data, Imik menjelaskan terjadi inflasi sebesar 1,15 persen dengan Indeks Harga Konsumen yang merupakan gabungan 3 Kota yakni Pontianak, Singkawang dan Sintang sebesar 110,89 poin.

Selain itu, tingkat kemiskinan periode September 2021 sebesar 6,84 persen dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada Februari 2022 sebesar 69,74 persen.

“Nilai Ekspor Kalimantan Barat pada Maret 2022 mencapai 208,20 juta US$ atau turun 10,01 persen dibanding Februari 2022. Nilai Impor Kalimantan Barat Maret 2022 sebesar 36,76 juta US$, naik 81,98 persen dibanding Februari 2022,” paparnya.

Dari sisi moneter, lanjut Imik, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di level 3,5 persen pada April 2022. Selain itu, BI mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25 persen.

Kinerja Penerimaan

Dia mengatakan, sejalan dengan pemulihan ekonomi, kinerja penerimaan hingga April 2022 di Kalimantan Barat mencapai Rp3,34 triliun atau tumbuh 63 persen year on year dan mencapai 44,38 persen dari target penerimaan pajak pada tahun 2022. “Pertumbuhan ini jauh lebih baik dibandingkan dengan penerimaan tahun lalu yang tumbuh 3,93 persen,” paparnya.

Penerimaan hingga April 2022 per jenis pajak dijelaskan dia, yakni, PPh Non-Migas Rp1,79 triliun atau tumbuh 85,13 persen, PPN Rp1,49 triliun atau tumbuh 47,87 persen, PBB Rp33,16 miliar atau tumbuh 16,70 persen dan pajak Lainnya Rp27,43 miliar atau tumbuh negative 41,32 persen karena turunnya setoran bea meterai dan adanya bunga penagihan pada 2021 yang tidak terulang di 2022

Penerimaan sektoral kumulatif seluruh jenis usaha dijelaskan Imik tumbuh positif. Sektor industri pengolahan masih mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 126,31 persen, kemudian sektor P3 (Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan) tumbuh 80,34 persen, sektor perdagangan tumbuh 71,29 persen, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 20,27 persen, dan sektor jasa keuangan tumbuh 17,33 persen “Sektor perdagangan memberikan kontribusi terbesar dalam penerimaan pajak di Kanwil DJP Kalimantan Barat sebesar 27,68 persen,” paparnya.

Pertumbuhan penerimaan yang positif diharapkan dia terus berlanjut seiring dengan implementasi UU Harmonisasi Perpajakan (UU HPP) yang mendorong peningkatan kepatuhan dan keadilan serta perluasan basis penerimaan pajak yang lebih sustainable.

“Sampai dengan April 2022, Program Pengungkapan Sukarela telah diikuti oleh 979 Wajib Pajak dengan total PPh yang disetor sebesar Rp151,16 miliar dari total nilai harta bersih Rp1,38 triliun,” tukasnya.

Sementara, realisasi penerimaan untuk bea cukai Kalimantan Barat sampai 30 April 2022 dirinci dia, yakni penerimaan Bea Masuk Rp15,24 Miliar atau 53,75 persen dari target penerimaan di tahun 2022 Rp28,36 Miliar, penerimaan Bea Keluar Rp742,94 Miliar atau 195,69 persen dari target penerimaan di tahun 2022 Rp379,65 Miliar dan penerimaan Cukai Rp10,45 Miliar atau 32,50 persen dari target penerimaan di tahun 2022 Rp32,14 Miliar.

Sedangkan, untuk realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sampai April tahun 2022 telah mencapai Rp295,85 Miliar atau sekitar 36,79 persen dari total pagu tahun 2022.

“Yang mana terdiri dari pendapatan Badan Layanan Umum Rp104,96 Miliar dan PNBP lainnya Rp190,89 Miliar,” imbuhnya.

  • Bagikan