Suaraindo.id – Di sebuah panggung teater di Jakarta, Kelompok Teater Fantasi Tuli menghadirkan pementasan yang memukau, berjudul “Senandung Senyap.” Uniknya, pertunjukan musikal ini dilakukan oleh para seniman dan kru yang mayoritasnya merupakan penyandang disabilitas pendengaran. Mereka berhasil memikat penonton dengan perpaduan tarian, musik, dan bahasa isyarat yang penuh emosi, mengajak semua pihak untuk lebih peduli dan menghargai bahasa isyarat.
Sutradara Hasna Mufidah dan Helga Theresia mengusung kisah yang menggugah, berlatar di sekolah menengah untuk anak-anak penyandang disabilitas. Cerita ini mengupas realitas yang dihadapi siswa tuli, termasuk stigma yang kerap mereka terima dan tantangan dalam mendapatkan pendidikan yang inklusif. Dengan sentuhan seni dan dialog yang ditampilkan melalui layar di sisi panggung, pesan musikal ini tersampaikan dengan sangat kuat.
“Senandung Senyap” menampilkan perpaduan unik antara gerakan dan getaran. Salah satu aktor pendukung, Jati Andito, menggambarkan pengalaman yang mengharukan selama proses latihan bersama teman-teman tuli. “Mereka bernyanyi dengan bahasa isyarat dan merasakan beat melalui getaran subwoofer. Melalui itu, mereka bisa menyelaraskan tarian dengan tempo musik,” ungkap Andito. Baginya, ini membuktikan bahwa kreativitas seni tidak terbatas oleh keterbatasan fisik.
Musikal ini melibatkan lebih dari 60 seniman tuli dan membutuhkan tiga bulan persiapan. Helga Theresia mengakui, produksi ini terinspirasi oleh Deaf West Theatre di Amerika Serikat, yang mengajarkan bahwa inklusivitas harus dirayakan dalam dunia seni. Mufidah, salah satu sutradara yang juga tuli, menyampaikan harapannya agar pementasan ini memicu pemahaman dan kesetaraan yang lebih baik antara mereka yang dapat mendengar dan yang tuli. “Mendengar bukanlah hal yang lebih unggul; kita setara,” ujarnya melalui penerjemah bahasa isyarat.
Bagi Hanna Aretha Oktavia, aktor tuli dalam pementasan ini, pengalaman menggunakan bahasa isyarat di panggung menjadi pelajaran berharga. “Kami harus menampilkan dialog dan ekspresi dengan intensitas yang tinggi, menggunakan getaran dan tempo untuk menari,” ceritanya, menyoroti tantangan sekaligus keindahan seni yang mereka bawakan.
Muhammad Arsya Alamsyah, aktor tuli lainnya, menegaskan pentingnya inklusivitas dalam seni dan media. “Produksi ini menjadi peluang untuk menunjukkan kondisi orang tuli di Indonesia, serta tantangan di dunia pendidikan dan profesional,” katanya. Ia berharap pementasan ini memberi kesadaran bagi masyarakat tentang pentingnya tidak memberikan stigma pada komunitas tuli.
Penonton pun merasakan dampak pertunjukan ini. Abdillah Nafan, salah satu yang hadir, mengatakan, “Masih banyak kekurangan di kalangan yang mendengar dalam mengakomodasi teman-teman tuli. Pementasan ini semoga menjadi awal kesadaran kita semua untuk lebih inklusif.”
Lebih dari 2 juta orang di Indonesia memiliki disabilitas pendengaran, termasuk puluhan ribu siswa di sekolah-sekolah khusus. Melalui “Senandung Senyap,” Teater Fantasi Tuli berhasil membuka mata dan hati banyak orang akan keindahan dan keunikan bahasa isyarat serta pentingnya menghargai keberagaman dalam berkesenian.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
SUMBER : VoAindonesia.com













