Suaraindo.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pada 6 Januari 2025 telah mendapat apresiasi luas dari masyarakat, terutama para orang tua. Program ini bertujuan meningkatkan status gizi anak-anak Indonesia melalui penyediaan makanan bergizi secara gratis, dengan harapan mampu menekan angka stunting sekaligus mendorong pola makan sehat sejak dini.
Juwita, seorang ibu di Cakung, Jakarta Timur, mengungkapkan rasa syukurnya. “Alhamdulillah, ngebantu ya untuk kita para ibu-ibu. Anak-anak juga bilang enak, ada ikannya, sayurnya, dan susunya,” ujarnya. Senada dengan Juwita, Rini, ibu lainnya, menambahkan bahwa program ini sangat membantu mengurangi anggaran rumah tangga, meski ia menyarankan agar porsi makanan disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak usia dini.
Program MBG menyasar beragam kelompok penerima manfaat, mulai dari anak PAUD, TK, hingga kelas I SD, serta balita, ibu hamil, dan menyusui. Total 190 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG kini beroperasi di 26 dari 38 provinsi. Kepala Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, menyebutkan bahwa target penerima manfaat mencapai 15 juta jiwa pada akhir 2025.
Meski program ini menuai pujian, sejumlah tantangan muncul. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyatakan bahwa anggaran Rp71 triliun hanya cukup hingga Juni 2025. “Kita butuh tambahan Rp140 triliun untuk melanjutkan program hingga akhir tahun,” ungkapnya. Total anggaran tahunan diperkirakan mencapai Rp420 triliun, termasuk melibatkan pelaku UKM sebagai mitra penyedia bahan pangan.
Selain anggaran, konsistensi menu juga menjadi perhatian. Pakar gizi anak, Tan Shot Yen, menyoroti pentingnya penyajian makanan yang berbasis bahan pangan lokal, seperti ayam kalasan atau ayam woku, dibandingkan menu internasional seperti ayam teriyaki. “Bumbu lokal lebih sehat dan mendorong ekonomi daerah,” ujarnya.
Tan juga mengkritisi penetapan lokasi awal pelaksanaan MBG yang lebih banyak di wilayah perkotaan seperti Palmerah, Bandung, dan Tangerang. “Seharusnya fokus di daerah 3T, di mana angka stunting tinggi,” tambahnya.
Program MBG merupakan langkah positif yang patut diapresiasi. Namun, untuk menjadikannya berkelanjutan dan efektif, pemerintah perlu memperbaiki aspek distribusi, alokasi anggaran, serta memastikan menu yang disajikan sesuai dengan kebutuhan gizi dan kearifan lokal.
Keberhasilan program ini tidak hanya terletak pada angkanya, tetapi pada dampaknya yang nyata dalam meningkatkan kualitas hidup generasi penerus bangsa. Dengan komitmen yang kuat dan evaluasi berkelanjutan, MBG diharapkan mampu menjadi solusi nyata bagi permasalahan gizi di Indonesia.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS













